Ketika Kehendak Menyatu dengan Langit
Dalam khazanah kearifan Bugis, leluhur menitipkan pesan yang tidak sekadar bijak, tetapi juga filosofis dan teologis. Pesan itu berbunyi: engka tellu elo iyanaritu elona taue denajaji, elona Puang Allahu Ta’ala jaji, nenniya elona taue siame’i elono Puang Allahu Ta’ala jaji. Ada tiga kehendak dalam hidup ini: kehendak manusia yang bisa gagal, kehendak Allah yang pasti terjadi, dan kehendak manusia yang menyatu dengan kehendak Allah, maka ia akan terwujud.
Pesan ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari perenungan panjang orang-orang Bugis terhadap realitas hidup, terhadap kegagalan dan keberhasilan, terhadap doa yang terkabul dan harapan yang tertunda. Leluhur Bugis membaca hidup sebagai pertemuan antara upaya manusia dan keputusan Ilahi.
Manusia memiliki kehendak, impian, rencana, dan ambisi. Namun kehendak manusia tidak selalu berujung pada kenyataan. Banyak yang telah dirancang matang, diupayakan dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap tidak terwujud. Di situlah leluhur Bugis mengingatkan: elona taue denajaji, kehendak manusia bisa saja tidak menjadi apa-apa.
Bukan karena manusia malas atau tidak cerdas, tetapi karena hidup tidak sepenuhnya berada dalam genggaman manusia. Ada kekuatan yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih menentukan. Kekuatan itu adalah kehendak Puang Allah Ta’ala. Dalam pandangan Bugis, kehendak Allah adalah kepastian mutlak, elona Puang Allahu Ta’ala jaji.
Keyakinan ini sejalan dengan kaidah tauhid dalam Islam: Maa syaa Allahu kaana, wa maa lam yasya’ lam yakun. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terwujud. Tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menolak kehendak-Nya.
Namun kearifan Bugis tidak berhenti pada sikap pasrah yang kaku. Leluhur Bugis tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berikhtiar dan menunggu nasib. Justru muncul konsep ketiga yang paling dalam maknanya: kehendak manusia yang menyatu dengan kehendak Allah.
Ketika kehendak manusia diselaraskan dengan nilai, etika, dan ridha Ilahi, maka lahirlah kehendak yang kuat. Kehendak semacam inilah yang dalam ungkapan Bugis disebut siame’i elono Puang Allahu Ta’ala. Ia bukan kehendak yang membangkang, tetapi kehendak yang tunduk.
Dalam konteks ini, doa tidak lagi sekadar permohonan, tetapi proses penyelarasan batin. Ikhtiar bukan lagi soal memaksakan hasil, melainkan tentang menempuh jalan yang benar. Hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah, tanpa kehilangan semangat berbuat.
Orang Bugis memahami bahwa kegagalan bukan selalu tanda kehendak Allah menolak manusia. Bisa jadi kegagalan adalah cara Allah membentuk kehendak manusia agar lebih jernih, lebih sabar, dan lebih ikhlas. Dari situlah kehendak manusia dipurnakan.
Ketika manusia memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan nilai Ilahi, ia mudah gelisah dan kecewa. Tetapi ketika kehendak itu dilandasi niat baik, kejujuran, dan ketundukan, ia akan menemukan ketenangan, apa pun hasil akhirnya.
Kearifan ini menjadikan orang Bugis memiliki daya tahan spiritual yang kuat. Mereka berani berusaha, tetapi tidak sombong ketika berhasil. Mereka menerima kegagalan, tetapi tidak putus asa. Semua ditempatkan dalam bingkai kehendak Allah.
Ungkapan Maa syaa Allahu kaana menjadi pengingat bahwa hidup bukan sekadar hitung-hitungan manusia. Ada takdir yang bekerja, ada hikmah yang tersembunyi, dan ada waktu Allah yang selalu tepat, meski sering tak sesuai harapan manusia.
Sementara wa maa lam yasya’ lam yakun mengajarkan kejujuran batin: tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita. Tidak semua yang kita kejar akan membawa keselamatan. Kadang, tidak terwujudnya sebuah keinginan justru adalah rahmat.
Dalam konteks kehidupan sosial, pesan ini melatih manusia untuk rendah hati. Kekuasaan, jabatan, dan pengaruh bukan semata hasil kepintaran, tetapi amanah yang diberikan oleh Allah melalui sebab-sebab yang Dia kehendaki.
Dalam konteks spiritual, pesan ini mengajarkan tauhid yang hidup. Tauhid yang tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan dalam setiap usaha, kegagalan, dan keberhasilan. Hidup menjadi dialog panjang antara manusia dan Tuhannya.
Kearifan Bugis ini juga menjadi kritik halus terhadap sikap manusia modern yang merasa serba bisa. Teknologi dan ilmu pengetahuan sering kali membuat manusia lupa batas. Leluhur Bugis mengingatkan bahwa sehebat apa pun manusia, kehendak Allah tetap penentu akhir.
Ketika kehendak manusia dan kehendak Allah berjalan searah, maka langkah terasa ringan. Hati menjadi lapang, dan hidup menemukan maknanya. Inilah pertemuan indah antara ikhtiar dan tawakal.
Pesan leluhur Bugis ini bukan hanya milik masa lalu. Ia relevan sepanjang zaman. Ia mengajarkan bahwa kehidupan terbaik bukanlah kehidupan tanpa rencana, tetapi kehidupan dengan rencana yang selalu diserahkan kepada Allah, Sang Pemilik Kehendak Sejati.