Menyelami Hakikat Keberadaan

 

Oleh: Zaenuddin Endy

Koordinator LTN JATMAN Sulawesi Selatan

Dalam tradisi spiritual Islam, terdapat satu ungkapan yang sarat makna metafisis sekaligus eksistensial: laa maujuuda illa Allah (tidak ada yang benar-benar maujud kecuali Allah. Ungkapan ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan hasil dari perjalanan batin yang panjang, refleksi mendalam, dan penyaksian ruhani terhadap hakikat realitas. Ia tidak lahir dari spekulasi semata, tetapi dari pengalaman kesadaran yang melampaui batas rasionalitas biasa.

Secara lahiriah, manusia hidup dalam dunia yang tampak penuh dengan keberadaan: benda, manusia, alam, dan berbagai fenomena yang seolah berdiri sendiri. Namun, dalam perspektif hakikat, semua itu tidak memiliki keberadaan mandiri. Keberadaan mereka bersifat relatif, bergantung, dan fana. Mereka ada bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena diadakan oleh Yang Maha Ada.

Di sinilah letak perbedaan antara wujud hakiki dan wujud majazi. Wujud hakiki adalah keberadaan yang tidak bergantung pada apa pun, tidak bermula, dan tidak berakhir. Ia adalah sumber dari segala yang ada. Sementara itu, wujud majazi adalah keberadaan yang bersifat pinjaman, ia tampak ada, tetapi sejatinya tidak memiliki kemandirian ontologis. Segala sesuatu selain Allah berada dalam kategori ini.

Kesadaran terhadap hal ini tidak serta-merta hadir dalam diri setiap orang. Ia menuntut proses penyucian jiwa, pengendalian ego, dan latihan batin yang berkesinambungan. Selama manusia masih terikat kuat pada persepsi indrawi dan identitas diri yang sempit, ia akan cenderung melihat dirinya dan dunia sebagai sesuatu yang otonom. Padahal, dalam kedalaman realitas, semua itu hanyalah manifestasi dari kehendak Ilahi.

Ketika seorang hamba mulai menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa secara hakiki, bahkan keberadaannya sendiri bukan miliknya, maka pada saat itulah ia mulai mendekati makna laa maujuuda illa Allāh. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati yang sejati, karena tidak ada lagi ruang untuk kesombongan dalam diri yang menyadari bahwa ia hanyalah “bayangan” dari kehendak Tuhan.

Lebih jauh, pemahaman ini juga mengubah cara manusia memandang kehidupan. Dunia tidak lagi diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai cermin yang memantulkan tanda-tanda keberadaan Allah. Segala peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, dipahami sebagai bagian dari skenario Ilahi yang memiliki makna lebih dalam daripada sekadar fenomena permukaan.

Dalam konteks ini, tauhid tidak lagi berhenti pada pengakuan verbal bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah,” tetapi berkembang menjadi kesadaran eksistensial bahwa “tidak ada yang benar-benar ada selain Allah.” Ini adalah tingkat tauhid yang lebih dalam, yang dalam tradisi tasawuf sering disebut sebagai tauhid hakiki.

Namun, penting untuk dipahami bahwa kesadaran ini bukan berarti menafikan realitas dunia secara praktis. Manusia tetap hidup, bekerja, berinteraksi, dan menjalankan tanggung jawabnya. Akan tetapi, semua itu dijalani dengan perspektif bahwa segala sesuatu hanyalah sarana, bukan tujuan. Dunia tidak lagi mengikat, karena hati telah tertambat pada Yang Maha Ada.

Dalam pengalaman spiritual, keadaan ini sering digambarkan sebagai “fana”, lenyapnya kesadaran ego dalam kehadiran Ilahi. Pada titik ini, manusia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat, melainkan sebagai bagian dari kehendak Tuhan yang lebih besar. Yang tersisa hanyalah kesadaran akan kehadiran Allah dalam segala sesuatu.

Dari sini kemudian muncul tahap “baqa”, kembali hidup dalam kesadaran Ilahi setelah mengalami kefanaan ego. Pada tahap ini, manusia tetap beraktivitas di dunia, tetapi dengan kesadaran yang telah berubah. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku utama, melainkan sebagai instrumen dari kehendak Tuhan.

Konsep laa maujuuda illa Allāh juga memiliki implikasi etis yang kuat. Jika segala sesuatu berasal dari Allah dan bergantung kepada-Nya, maka tidak ada alasan untuk merendahkan makhluk lain. Setiap entitas, sekecil apa pun, adalah bagian dari sistem keberadaan yang dikehendaki oleh-Nya. Dengan demikian, penghormatan terhadap sesama makhluk menjadi konsekuensi logis dari kesadaran tauhid ini.

Selain itu, kesadaran ini juga membebaskan manusia dari kecemasan eksistensial. Ketika seseorang memahami bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Tuhan, maka ia tidak lagi terjebak dalam ketakutan berlebihan terhadap masa depan atau penyesalan terhadap masa lalu. Ia hidup dalam ketenangan, karena menyadari bahwa dirinya berada dalam pengaturan yang sempurna.

Laa maujuuda illa Allah bukan sekadar konsep yang dipahami, tetapi realitas yang dialami. Ia menuntut perjalanan panjang, kejujuran batin, dan keberanian untuk melepaskan ilusi-ilusi diri. Tidak semua orang sampai pada tingkat ini, tetapi setiap langkah menuju ke sana adalah bagian dari proses penyempurnaan diri sebagai hamba.

Maka, ketika seseorang benar-benar menghayati makna ini, ia tidak lagi melihat dunia dengan cara yang sama. Segala sesuatu menjadi transparan, menyingkapkan kehadiran Yang Maha Ada di baliknya. Dan dalam kesunyian batin yang paling dalam, ia menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan: tidak ada yang benar-benar maujud selain Allah.