Tuhfat al-Mursalah ila Ruh al-Nabi
Tuhfat al-Mursalah ila Ruh al-Nabi adalah salah satu karya spiritual Syekh Yusuf al-Makassary yang penuh dengan kehalusan rasa dan kedalaman cinta kepada Rasulullah SAW. Judulnya yang berarti “Persembahan yang Dikirimkan kepada Ruh Nabi” menandakan bahwa kitab ini bukan sekadar teks ilmiah, melainkan ungkapan hati yang tulus, persembahan seorang hamba kepada junjungan yang dicintainya. Di dalamnya tersimpan untaian puji-pujian, doa, zikir, dan kontemplasi yang semuanya diarahkan kepada ruh Nabi sebagai bentuk penghormatan, penghambaan, dan cinta yang mendalam.
Kitab ini ditulis dalam suasana batin yang begitu halus. Syekh Yusuf menempatkan dirinya sebagai pecinta yang larut dalam kerinduan yang tak terhingga kepada Rasulullah SAW. Ia mengekspresikan bagaimana ruh seorang Muslim akan terus hidup dan bersinar ketika terkoneksi dengan ruh Nabi yang penuh berkah. Bagi Syekh Yusuf, Rasulullah bukan hanya teladan dalam perilaku, tetapi juga cahaya yang menuntun ruh-ruh yang haus akan kebenaran.
Isi kitab ini bukan semata-mata pujian yang bersifat verbal, melainkan juga refleksi ruhani atas posisi agung Nabi Muhammad dalam tatanan spiritual Islam. Syekh Yusuf menjelaskan bahwa ruh Nabi adalah mata rantai cahaya yang menyambungkan makhluk kepada Allah. Dalam setiap pujian yang ia tulis, terdapat makna tauhid, mahabbah, dan syafaat. Ia mengajarkan bahwa mencintai Nabi adalah bagian dari mencintai Allah, dan mengikuti Nabi adalah bentuk penghambaan yang sejati.
Syekh Yusuf juga menguraikan tentang maqam ruhani Rasulullah yang berada di atas semua makhluk. Menurutnya, Rasulullah bukan hanya manusia sempurna secara lahir, tetapi juga sempurna secara batin dan ruhani. Kitab ini menampilkan kedalaman pandangan tasawuf Syekh Yusuf tentang hakikat Nur Muhammad, cahaya pertama yang diciptakan Allah dan menjadi sumber dari segala ciptaan. Pemahaman ini mengakar kuat dalam tradisi tasawuf, khususnya tarekat Khalwatiyyah yang dianutnya.
Dalam bagian-bagian tertentu, Syekh Yusuf menggambarkan kerinduan yang amat dalam kepada Nabi Muhammad. Kerinduan itu bukan bersifat manusiawi semata, melainkan sebagai dorongan spiritual yang menuntun seorang hamba untuk meneladani sifat-sifat Nabi secara utuh. Ia tidak hanya merindukan fisik Nabi, tetapi ruh, akhlak, dan rahmat beliau yang meresap ke dalam kehidupan umat manusia.
Kitab ini juga menjadi media dzikir dan wirid. Syekh Yusuf menyusun kalimat-kalimat yang dirancang sebagai bentuk pengingat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang bisa dibaca dalam khalwat atau dalam pengajian-pengajian tarekat. Setiap kalimat dzikir dalam kitab ini dipenuhi dengan makna dan resonansi ruhani yang kuat. Ia menyarankan para muridnya untuk membacanya dengan penuh khusyuk agar hati mereka terbuka dan ruh mereka tersambung dengan cahaya kenabian.
Bagi Syekh Yusuf, hubungan antara seorang murid tarekat dengan Rasulullah adalah hubungan ruhani yang hidup. Melalui kitab ini, ia mengajarkan bahwa seorang sufi harus memiliki hubungan batin yang mendalam dengan Nabi. Dengan itu, seorang murid akan terjaga dalam akhlaknya, istiqamah dalam ibadahnya, dan bersih dalam niatnya. Itulah bentuk nyata dari mahabbah dan ittiba’ yang sejati.
Kitab Tuhfat al-Mursalah juga mengandung ajakan untuk memperbanyak salawat sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Syekh Yusuf menjelaskan keutamaan-keutamaan salawat, baik dari sisi duniawi maupun ukhrawi. Menurutnya, salawat adalah jembatan antara hamba dan Rasulullah, yang akan membuahkan syafaat dan keberkahan dalam hidup. Dalam salawat itu pula tersembunyi rahasia kehadiran ruh Nabi dalam kehidupan para pencintanya.
Melalui karya ini, Syekh Yusuf juga menunjukkan bahwa tasawuf bukan jalan yang menjauh dari syariat. Justru melalui kecintaan kepada Nabi, seorang sufi harus semakin taat kepada ajaran-ajaran Islam. Kitab ini memperlihatkan bagaimana aspek cinta dalam Islam tidak lepas dari tanggung jawab moral dan spiritual seorang Muslim dalam menjalani hidup sesuai ajaran Rasulullah.
Bahasa yang digunakan dalam kitab ini adalah bahasa cinta, bahasa jiwa yang mendalam. Setiap kalimatnya menggugah kesadaran bahwa ruh manusia selalu membutuhkan hubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya, dan dalam Islam, sosok itu adalah Nabi Muhammad SAW. Syekh Yusuf menulis dengan kejujuran ruhani, menampilkan dirinya sebagai hamba yang hina yang memohon disambungkan kepada Sang Nabi sebagai jalan menuju Allah.
Kitab ini bukan hanya ditujukan untuk dibaca, tetapi untuk diresapi dan diamalkan. Ia menjadi pedoman ruhani bagi para murid tarekat, pengingat bagi para pencinta Nabi, dan refleksi bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Allah melalui cinta yang tulus. Kitab ini telah berperan penting dalam membentuk karakter sufistik Islam di Nusantara, di mana kecintaan kepada Nabi menjadi pusat dari segala laku spiritual.
Tuhfat al-Mursalah ila Ruh al-Nabi adalah bukti bahwa Syekh Yusuf al-Makassary bukan hanya seorang ulama dan pejuang, tetapi juga seorang pecinta Nabi sejati. Ia mempersembahkan kitab ini bukan sebagai karya ilmiah biasa, tetapi sebagai persembahan ruhani yang akan terus hidup, mengalir dalam hati-hati mereka yang rindu, yang mencari, dan yang mencintai Rasulullah SAW. Kitab ini adalah nyanyian hati dari seorang wali, untuk kekasih sejatinya, Nabi akhir zaman.