Tuhan Kita Sama?

Tuhan Kita Sama? 

Oleh:Zaenuddin Endy

Ketua Harian DPP Ikatan Alumni Pesantren Modern (IKAPM) Aljunaidiyah Bone

Tuhan adalah sumber segala kehidupan, pencipta langit dan bumi, dan penentu segala takdir. Dalam berbagai agama samawi maupun agama lainnya, konsep Ketuhanan menjadi pusat keyakinan dan penghambaan. Meskipun berbeda dalam cara penyembahan dan pemahaman, namun esensi dari Tuhan sebagai dzat Yang Maha Esa, Maha Mengetahui, dan Maha Penyayang memiliki kesamaan. Pertanyaan “Tuhan kita sama?” sering kali muncul dalam dialog antarumat beragama, dan ini bukanlah pertanyaan yang sederhana, melainkan refleksi atas kesadaran spiritual yang mendalam.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa keimanan kepada-Nya dan kepada hari akhir bukan hanya milik satu kelompok tertentu. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 62 menjelaskan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلنَّصَـٰرَىٰ وَٱلصَّـٰبِـِٔينَ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan mendapat pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ayat ini menggambarkan bahwa keselamatan dan ganjaran dari Allah bukan dimonopoli oleh satu komunitas, melainkan terbuka bagi siapa saja yang benar-benar beriman dan beramal saleh. Ini menegaskan sifat rahmat Allah yang luas, melampaui batas-batas identitas keagamaan yang seringkali dibuat manusia. Keyakinan bahwa hanya satu golongan yang memiliki akses kepada Tuhan adalah bentuk penyempitan makna Ketuhanan yang universal.

Perlu dipahami bahwa keimanan yang dimaksud dalam ayat ini bukan hanya pengakuan lisan, melainkan penghayatan yang mendalam terhadap keberadaan Tuhan, dan pembuktian iman melalui amal perbuatan. Tuhan dalam Islam bukanlah milik eksklusif umat Islam saja, melainkan Tuhan seluruh makhluk. Dia adalah Rabbul ‘Alamin – Tuhan semesta alam. Maka ketika seseorang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta berbuat baik, maka ia sedang berjalan dalam jalan yang diridhai oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam Surah Al-Hajj ayat 17 juga disebutkan bahwa Allah akan mengadili semua golongan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلصَّـٰبِـِٔينَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰ وَٱلْمَجُوسَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ شَهِيدٌۭ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, sesungguhnya Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa berbagai kelompok kepercayaan akan dikembalikan pada keputusan Tuhan di hari akhir. Tidak ada yang dapat mengklaim kebenaran mutlak kecuali Allah sendiri. Oleh karena itu, tugas manusia bukanlah untuk menghakimi keyakinan orang lain, melainkan memperkuat imannya sendiri dan memperluas kasih sayang kepada sesama.

Dalam konteks ini, menyatakan “Tuhan kita sama” bukan berarti menyamakan semua ajaran agama secara mutlak, namun mengakui adanya titik temu dalam pengakuan terhadap Tuhan yang Esa dan Maha Kuasa. Kalimat ini menjadi jembatan dialog antarumat beragama yang damai dan penuh toleransi. Justru dari pengakuan ini, kita diajak untuk mengedepankan akhlak, bukan sekadar identitas keagamaan yang kaku.

Sering kali manusia terjebak dalam identitas keagamaan formal yang menjadikannya superior terhadap yang lain. Padahal, Tuhan menilai ketakwaan, bukan label agama semata. Seperti disebutkan dalam Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Takwa tidak mengenal suku, bangsa, ataupun agama secara kasat mata.

Dengan demikian, menyatakan bahwa Tuhan kita sama adalah sebuah ajakan untuk meruntuhkan sekat-sekat eksklusivitas spiritual. Ini adalah undangan menuju kesadaran transenden, bahwa Tuhan tidak terkungkung oleh simbol-simbol manusia, namun hadir dalam hati yang bersih, amal yang tulus, dan keimanan yang sejati. Setiap manusia berpotensi untuk dekat kepada Tuhan selama ia tulus dalam keimanannya.

Di era modern yang penuh konflik bernuansa agama, gagasan bahwa Tuhan kita sama menjadi sangat relevan. Ia menekankan pentingnya kedamaian, persaudaraan, dan saling menghormati dalam perbedaan. Dalam pandangan Islam sendiri, dakwah bukanlah pemaksaan, melainkan seruan yang bijaksana dan penuh hikmah. Memahami bahwa Tuhan kita sama adalah langkah awal untuk menghentikan klaim kebenaran tunggal yang sering melahirkan permusuhan.

Karena itu, kita harus kembali pada esensi penghambaan: tunduk kepada Tuhan, bukan kepada ego dan kelompok. Tuhan mengajarkan cinta, bukan kebencian; persatuan, bukan perpecahan. Maka, ketika kita mampu berkata “Tuhan kita sama” dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, kita sesungguhnya sedang mendekat kepada makna sejati dari agama itu sendiri—mengabdi kepada Tuhan dan menjadi rahmat bagi sesama.

Wallahu A’lam Bissawab