Tinggi Sekolah, Dalam Pengalaman: Hikmah dari Dua Kakek Bersaudara
Di sebuah kampung yang tenang, hiduplah dua kakek bersaudara yang menjadi perbincangan banyak orang. Mereka lahir dari rahim yang sama, dibesarkan oleh tangan yang sama, tetapi menempuh jalan hidup yang berbeda. Perbedaan itu bukan sekadar soal pekerjaan, melainkan soal cara memaknai ilmu dan kehidupan.
Kakek yang pertama dikenal sebagai sosok yang tekun belajar. Sejak muda ia merantau, mengenyam pendidikan tinggi, membaca banyak buku, dan fasih berbicara tentang teori. Ia dihormati karena keluasan pengetahuannya, dan namanya sering disebut dalam forum-forum diskusi kampung.
Sementara itu, kakek yang kedua tidak pernah duduk lama di bangku sekolah. Hidup memaksanya bekerja sejak kecil. Ladang, pasar, dan pelabuhan menjadi “kelas”-nya. Ia belajar dari kerasnya matahari, pahitnya kegagalan, dan getirnya kehilangan.
Meski tidak bergelar, ia dikenal bijak dalam mengambil keputusan. Banyak orang datang meminta nasihat tentang persoalan rumah tangga, usaha, bahkan konflik antar keluarga. Jawabannya sederhana, tetapi menenangkan.
Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai di beranda rumah panggung, kakek yang tidak sekolah itu berkata dalam bahasa Bugis, “iyyaro padaraneku matanre bawang sikolana naekiya makurang pahang.” Ucapannya membuat beberapa orang terdiam.
Kalimat itu jika diterjemahkan berarti, “Saudara saya itu tinggi sekolahnya, tetapi kurang paham.” Bukan nada merendahkan yang terdengar, melainkan nada getir yang jujur. Sebuah refleksi yang lahir dari pengalaman panjang.
Pernyataan itu bukan kritik terhadap pendidikan formal, melainkan kritik terhadap cara memahami ilmu. Ia melihat bahwa banyak teori bisa dihafal, tetapi tidak semua pelajaran benar-benar meresap menjadi kebijaksanaan.
Kakek yang bersekolah tinggi memang piawai menjelaskan konsep. Namun, ketika berhadapan dengan persoalan nyata, konflik keluarga, pertengkaran warisan, atau persoalan adat, ia sering kebingungan. Buku tidak selalu memberi jawaban yang kontekstual.
Sebaliknya, sang kakek tanpa ijazah memiliki kepekaan sosial yang tajam. Ia paham kapan harus diam, kapan harus tegas, dan kapan harus mengalah. Pengalaman membentuk instingnya membaca situasi.
Di sini, terlihat bahwa ilmu dan pengalaman bukan dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya mestinya saling melengkapi. Pendidikan formal memberi kerangka berpikir, sementara pengalaman memberi kedalaman rasa.
Masalah muncul ketika ilmu hanya berhenti pada tataran kognitif. Sekolah bisa meninggikan derajat seseorang secara akademik, tetapi tidak otomatis meninggikan kebijaksanaan. Kebijaksanaan membutuhkan perjumpaan dengan realitas.
Kakek yang rajin membaca sering berbicara panjang lebar tentang solusi pembangunan desa. Namun gagasannya kadang terasa melayang, tidak membumi. Ia memahami teori perubahan sosial, tetapi belum tentu memahami dinamika emosi masyarakatnya.
Sementara saudaranya, yang tak sekolah, memahami karakter setiap warga. Ia tahu siapa yang sensitif, siapa yang keras kepala, dan siapa yang mudah diajak kompromi. Pengetahuan seperti ini tak tertulis dalam buku mana pun.
Ungkapan Bugis yang ia lontarkan sejatinya adalah kritik halus terhadap kesombongan intelektual. Tinggi sekolah tidak boleh membuat seseorang merasa paling benar. Sebab pemahaman sejati lahir dari kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.
Kisah dua kakek itu mengajarkan bahwa literasi tidak hanya soal membaca teks, tetapi membaca konteks. Orang yang berpendidikan tinggi perlu belajar merendahkan diri di hadapan pengalaman hidup. Sebaliknya, pengalaman pun akan lebih kokoh bila didukung refleksi dan pembacaan yang luas.
Ilmu tanpa pengalaman bisa menjadi kering. Ia terdengar indah dalam pidato, tetapi rapuh dalam praktik. Sebaliknya, pengalaman tanpa refleksi bisa terjebak pada kebiasaan yang tidak berkembang.
Idealnya, manusia menyatukan keduanya. Tinggi sekolah sekaligus dalam pemahaman. Mampu mengutip teori sekaligus menenun solusi dari realitas sosial. Di situlah pertemuan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan kehidupan.
Dua kakek itu tetap bersaudara, tetap duduk berdampingan di beranda setiap sore. Mereka saling melengkapi meski berbeda jalan. Yang satu mengajarkan arti penting membaca, yang lain mengajarkan arti penting memahami.
Kalimat “matanre bawang sikolana naekiya makurang pahang” menjadi pengingat bahwa ukuran pemahaman tidak selalu sejajar dengan tinggi pendidikan. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak cukup dipelajari, tetapi harus dijalani.
Hikmah dari dua kakek bersaudara itu menegaskan bahwa ilmu sejati bukan sekadar yang tersimpan di kepala, melainkan yang menuntun sikap dan keputusan. Tinggi sekolah adalah anugerah, tetapi dalam pemahaman adalah kematangan. Dan kematangan itulah yang membuat seseorang benar-benar disebut bijak.