PALU SUNYI DALAM DIRI
Refleksi oleh: Safira Nur Aini
Bagi sebagian besar jiwa pencari makna, menjadi santri adalah awal langkah kehidupan. Banyak Masyarakat memiliki pandangan bahwa santri adalah gambaran manusia yang menjejak bumi dengan ketangguhan, tetapi hatinya selalu dekat kepada langit. Dengan keberanian dan kepercayaan, saya memutuskan untuk menyandang gelar sebagai santri. Dengan harapan, bisa mempelajari ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang, sekaligus dibimbing untuk berkehidupan sosial penuh nilai. Namun, perjalanan menuju kedewasaan tidak semudah yang pikirkan. Perjalanan itu berliku dan penuh luka, dihadang dengan banyak cobaan, datang tanpa memberi isyarat.
Masih tersimpan rapi dalam memori ingatan, saat mencoba beradaptasi menjadi seorang santri. Banyak wajah baru, aturan, dan suara keras-disiplin ala pembina. Saat hati masih berusaha belajar untuk menyesuaikan dengan keadaan yang dihadapi, pengalaman kurang menyenangkan muncul dari santri senior.Saya dipanggil dengan nada merendahkan: “Besar sekali badanmu, seperti gajah lagi duduk.” Manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan yang telah Allah Swt. tetapkan untukhamba-Nya. Begitu juga dengan diriku memiliki kekurangan dari segi fisik, mental, dan kepercayaan.
Terdengar sepele, tetapi kalimat itu menghantam hatiku, seperti palu sunyi yang memukul perlahan, tetapi pasti meretakkan kepercayaan diri sedikit demi sedikit. Merasa dipermalukan , sehingga saya mulai mempertanyakan: Apakah benar saya pantas untuk dihina seperti itu? Seolah-olah keberadaanku, seperti bayangan yang tidak dapat dihargai. Saya membiarkan semua berlalu tanpa suara, menyembunyikannya dalam senyap, menyisakan sesak yang tidak bisa diungkapkan. Tidak punya keberanian untuk bicara, bahkan sekadar curhatkepada teman dekat. Ketika luka perlahan mendalam dan mulaimenyalahkan diri serta membenarkan hinaan itu. Namun, daribalik rasa terpendam dalam diam, satu suara lahir melalui jiwayang tenang, tapi tak bisa diabaikan: “Tidakkah menjadi santriitu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, berakhlak,dan saling menghargai, bukan menyakiti? Lantas apakahmereka mencerminkan sikap semua santri yang ada?”
Perkataan itu terus menghantui pikiran, saya mulai merenung dan pelan-pelan mengambil hikmah dari pengalaman itu . Setiap manusia sudah memiliki takdir dan porsinya masing-masing. Tuhan menciptakan manusia dalam berbagai bentuk dan keadaan berbeda. Ada kurus, ada gemuk, Ada yang dapat memahami sesuatu dengan cepat dan ada yang butuh waktu lebih lama, tetapi semua memiliki nilai. Tidak ada ciptaan Tuhan sia-sia, setiap pemberian-Nya patut untuk disyukuri.
Saya menyadari bahwa perundungan verbal maupun non-verbal, adalah bentuk ketidakadilan terhadap ciptaan-Nya. Siapapun tidak berhak untuk menghina, mencaci, atau mempermalukan orang lain hanya karena mereka berbeda. Hinaan tidak akan membuat seseorang berubah menjadi lebihbaik. Sebaliknya, ia justru hanya meninggalkan luka yang tidak terlihat oleh indra penglihatan, tetapi sangat dalam. Menurut kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), (2021), bullying menyebabkan penurunan self-esteemyang signifikan pada remaja. Biasanya mereka akan mengalamigangguan depresi dan kecemasan, begitu juga dengan gangguanakademik dan keagamaan. Tanpa saya sadari rasa itumenumbuhkan rasa empati dan kuat dalam diri sebagai buahketangguhan seorang santri. Saya tidak ingin orang lain mengalami sakit yang sama. Oleh karena itu, dalam kehidupan pesantren, saya mulai berusaha menjadi teman yang aman dan nyaman bagi siapa pun. Mencoba menghargai perbedaan yang ada, mendengarkan cerita teman, menerima siapa pun dengan ramah, menciptakan hubungan nyaman dengan sesama santri.
Sekecil apa pun peran saya dalam kehidupan asrama harus selalu menciptakan iklim yang lebih positif lagi. Membangun pesantren yang aman untuk semua bukanlah tugas individu santri. Ia merupakan tanggung jawab semua orang yang terlibatdi dalamnya. Semua orang harus menciptakan lingkungan yangmemenuhi keamanan psikologis, menghargai, bukanmenghakimi, membina, bukan membinasakan, dan yang paling penting dapat menerima dan diterima oleh siapa pun.
Berangkat dari pengalaman itu, saya mendapatkan bekal dan pembelajaran berharga di pondok pesantren untuk meraih masa depan lebih baik dari apa yang saya harapkan sebelumnya. Oleh karena itu, dengan perundungan, saya belajar tentang kekuatan diam. Belajar tentang luka bisa menjadi titik balikmenuju versi terbaik dalam diri. Juga belajar bahwa luka takselamanya untuk ditangisi, akan tetapi luka dapat disyukuri. Kini saya tahu, bahwa saya bukan korban tetapi pejuang. Tidak membalas perbuatan desktruktif dengan kata kasar atau tindakan menyakitkan, tetapi dengan kesadaran dan perubahan sikap. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan kecil menuju lebih baik lagi. Hal ini berarti di lingkup pesantren perlu dibangunekosistem inklusif atau kultur Madrasah yang lebih suportif lagi, di mana setiap santri merasa diterima, dihargai, dan amanmenjadi dirinya sendiri. Tidak ada sekat senioritas dan junior, serta ditingkatkannya pola asuh orangtua-anak yang telah ada agar lebih berdaya-guna.
Dari pengalaman literal ini, Sebuah pelajaran berharga dapat dimaknai: ucapan memiliki ketajaman yang dapat melukai lebih dalam daripada luka fisik, sekaligus memiliki kelembutan yang mampu memulihkan jika digunakan dengan bijak.
Sumber:
American Psychological Association. (2020). Bullying and Mental Health.
https://www.apa.org/topics/bullying
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2021). Buku Saku Pencegahan dan Penanganan Perundungandi Satuan Pendidikan. KemenPPPA.
Komisi Nasional Perlindungan Anak. (2022). Laporan Tahunan: Perundungan dan Kekerasan Anak di LingkunganPendidikan. https://komnaspa.or.id/
Mahfud, C., & Rahayu, R. (2021). Perundungan dan Dampaknya terhadap Spiritualitas Santri di Pesantren. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 11(2), 133–145.
UNICEF Indonesia. (2020). Perundungan: Mengatasi, Menghentikan, dan Mencegahnya.
https://www.unicef.org/indonesia/id/laporan/perundungan
Biodata Penulis
Safira Nur Aini, lahir di Jakarta, 23 Juni 2009, dan besardi Kota Depok. Setelah menyelesaikan Pendidikan dasar . Ia memilih untuk melanjutkan Pendidikan menengahnya di PondokPesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, Bone. Saat ini, ia merupakan santri dari siswa kelas XI Madrasah Aliyah (MA) di PondokPesantren Modern Al-Junaidiyah Biru, Bone.