Tanbih bagi Jiwa yang Tertipu
Tanbih bagi Jiwa yang Tertipu
Terbit fajar di hati para salik,
Namun kelam masih menyelimuti batin,
Mereka berdiri dalam rakaat panjang,
Tapi niat tersembunyi di balik bayang.
Wahai jiwa yang tertipu pujian,
Berhias zikir namun lalai dalam ingatan,
Sujudmu indah di hadapan manusia,
Namun kosong kala hanya Tuhan yang menyapa.
Bukan jubah yang membuatmu suci,
Bukan pula tasbih yang kau genggam rapi,
Jika hatimu masih haus sanjungan,
Maka engkau pejalan yang salah tujuan.
Imam al-Sya’rani menyeru dengan kasih,
Agar jangan tertidur di ranjang ghurur,
Ia hembuskan peringatan tajam,
Agar ruh bangkit dari tidur malam.
Apa guna ilmu segunung tinggi,
Jika ia menjadi tangga kesombongan?
Apa arti ibadah berderet panjang,
Jika hatimu tak tersambung ke langit terang
Tanbih al-Mughtarrin bukan sekadar kitab,
Ia cermin yang memantulkan tabir palsu,
Ia lentera dalam malam gelap,
Mengantar hamba menuju cahaya yang satu.
Marilah rendahkan wajah di bumi,
Agar tinggi derajatmu di sisi Ilahi,
Marilah patahkan tongkat ujub di hati,
Agar lurus jalan menuju ridha abadi.
Karena hakikat bukan di mata dunia,
Tapi di pandangan Tuhan yang Maha Rahasia,
Bukan tampilan yang jadi ukuran,
Melainkan hati yang penuh ketundukan.
Tanbih ini bukan celaan,
Tapi undangan untuk penyucian,
Agar kita tak tertipu jalan,
Dan pulang dalam damai ke pelukan Tuhan.