Taj al-Asrar: Mahkota Rahasia
Dalam sunyi malam yang menyerapkan makna,
kupegang kitab bertajuk Taj al-Asrar,
Syekh Yusuf menulis bukan dari tinta,
tapi dari tangis ruhani yang menebar sabar.
Ia bukan sekadar lembaran kata,
melainkan mahkota rahasia para salik,
dari qalb yang terjaga, dari sir yang terbuka,
ia menuntun jiwa yang hendak berdzikir.
Asrar bersemayam di balik diam,
di mana hati berbicara tanpa suara,
di sana cinta menyala dalam kelam,
dan fana menjadi awal dari cahaya.
Syekh Yusuf membawa kami ke taman makrifat,
tempat jiwa dipangkas dari nafsu dan rupa,
di situ wujud hanya fatamorgana semu,
dan Yang Hakiki hadir dalam kesadaran yang tak terduga.
Ia ajarkan bahwa rahasia bukan untuk dikuasai,
tapi dijaga dalam laku yang bersih,
bukan untuk dibanggakan atau dikaji,
melainkan untuk ditangisi dalam sujud yang jernih.
Maqam demi maqam, ruh ini diuji,
oleh godaan, oleh keletihan, oleh cinta semu,
namun di tiap jatuh, ada pelita tersembunyi,
Syekh berkata: “Itulah rahasia-Nya padamu.”
Dalam cahaya, ada bayang yang tak bisa dielak,
dalam makna, ada diam yang menyimpan jawab,
ia tidak memaksa untuk dipahami logika,
karena rahasia adalah milik yang berserah total.
Tajalli bukan hasil kajian semata,
tapi hadiah bagi jiwa yang redup dunia,
yang telah lelah mengejar bentuk,
dan kini hanya ingin larut dalam Nama-Nya.
Syekh Yusuf, mursyid dari Timur yang agung,
menaburkan mutiara dalam bahasa para pecinta,
dalam tiap kalimatnya tersimpan pelukan,
bagi ruh yang tersesat, dan ingin pulang.
Wahai pencari, peganglah kitab ini dalam dzikir,
bukan dengan akal yang haus mengerti,
tapi dengan hati yang siap hancur,
dan lahir kembali dari rahmat yang abadi.
Taj al-Asrar bukan akhir dari pencarian,
melainkan gerbang ke dalam keheningan terdalam,
di mana rahasia bukan lagi milik seorang insan,
tetapi menjadi satu dengan Sang Maha dalam.