Syekh Abdullah al-Karbali: Jejak Ulama Karbala dari Ternate, Buton hingga Bone
Islamisasi di Nusantara merupakan proses panjang yang melibatkan beragam jalur, aktor, dan konteks sejarah. Salah satu figur yang disebut dalam tradisi lokal Sulawesi Selatan adalah Syekh Abdullah al-Karbali, seorang ulama asal Karbala, Irak, yang pada awal abad ke-14 melakukan perjalanan panjang bersama rombongan Syekh Jamaluddin al-Akbari al-Husaini. Perjalanannya melintasi jalur samudera, singgah di Ternate dan Buton, lalu akhirnya bermukim di Bone. Jejaknya memberi gambaran bahwa penyebaran Islam tidak hanya melalui rute Gujarat–Hadramaut, tetapi juga melalui ulama-ulama dari pusat keilmuan Irak yang jarang mendapat sorotan dalam literatur arus utama.
Karbala pada abad pertengahan dikenal sebagai kota ilmu, khususnya dalam bidang fikih, hadis, dan tasawuf. Dari kota ini lahir banyak ulama yang menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam. Syekh Abdullah al-Karbali mewarisi tradisi keilmuan yang menggabungkan syariat dan tasawuf, yang kelak sangat memengaruhi corak dakwahnya di Nusantara. Sebagai seorang alim yang berakar pada tradisi spiritual Ahlul Bait, ia membawa pendekatan dakwah yang menekankan harmoni antara hukum dan akhlak.
Sekitar tahun 1320-an, sejumlah ulama besar melakukan perjalanan dakwah ke Nusantara. Rombongan itu dipimpin oleh Syekh Jamaluddin al-Akbari al-Husaini, seorang keturunan Rasulullah yang dikenal luas dalam literatur sejarah Islam Asia Tenggara. Dalam rombongan tersebut, Syekh Abdullah al-Karbali disebut ikut serta, sehingga namanya tercatat dalam jaringan awal Islamisasi di kawasan timur Nusantara. Walaupun bukti tertulis tentang kehadiran rombongan ini masih terbatas dan sering diperdebatkan, tradisi lisan di beberapa daerah menegaskan keterlibatan mereka dalam pengenalan Islam di wilayah rempah.
Ternate menjadi salah satu pelabuhan penting dalam jaringan niaga abad ke-14. Sebagai pusat perdagangan cengkeh, Ternate ramai didatangi pedagang Arab, Gujarat, dan Persia. Meskipun kesultanan Islam Ternate baru terbentuk pada akhir abad ke-15, ulama sudah lebih dahulu singgah untuk memperkenalkan Islam. Syekh Abdullah al-Karbali diyakini berperan dalam menyemaikan benih-benih Islam di Ternate melalui pendekatan sufistik. Pengajarannya lebih diarahkan pada kelompok pedagang, nelayan, dan bangsawan muda yang terbuka terhadap ajaran baru. Kehadirannya menjadi penting karena Islam pada tahap ini belum berwujud struktur politik, melainkan ajaran rohani dan etika.
Dari Ternate, perjalanan berlanjut ke Buton, sebuah kerajaan maritim di Sulawesi Tenggara yang memiliki tradisi spiritual kuat. Tradisi Buton mengenal beberapa tokoh ulama pendatang yang berperan dalam awal Islamisasi. Kehadiran Syekh Abdullah al-Karbali dipandang sebagai bagian dari gelombang ulama yang memperkenalkan tasawuf dan memperkuat pondasi spiritual masyarakat Buton. Ia mengajarkan pentingnya akhlak, dzikir, dan keseimbangan hidup, sebuah pendekatan yang sejalan dengan budaya lokal Buton yang sangat menghargai nilai-nilai kebatinan. Ajaran sufistik yang disebarkannya kelak menemukan resonansi dalam sistem keagamaan Kesultanan Buton yang kemudian berkembang.
Akhir perjalanan Syekh Abdullah al-Karbali adalah di Bone, salah satu kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Pada abad ke-14, masyarakat Bone masih sangat kuat dengan adat dan kepercayaan tradisional, namun sudah bersentuhan dengan Islam melalui jalur perdagangan dan perantauan. Syekh Abdullah memilih menetap di Bone, mendirikan halaqah pengajian, serta membimbing masyarakat dalam fikih dasar dan tasawuf. Dari Bone, ajarannya meluas ke berbagai daerah Bugis, sehingga namanya dikenang sebagai salah satu pembawa Islam awal di wilayah tersebut. Walaupun Islam secara politik baru diakui resmi di Bone pada abad ke-17, kehadiran Syekh Abdullah menunjukkan adanya benih keislaman yang lebih awal, yang secara perlahan menyiapkan masyarakat untuk menerima Islam secara kolektif.
Syekh Abdullah al-Karbali membawa corak Islam yang menekankan tasawuf amali, yakni praktik spiritual yang berakar pada syariat. Ia mengajarkan pentingnya dzikir, kesederhanaan, serta menjaga harmoni antara ajaran Islam dan adat. Pendekatan ini membuat Islam dapat diterima secara gradual oleh masyarakat lokal tanpa menimbulkan penolakan yang keras. Dakwahnya lebih bersifat kultural dan sufistik, bukan konfrontatif, sehingga meninggalkan pengaruh mendalam dalam pola keberagamaan masyarakat Bugis.
Kisah Syekh Abdullah al-Karbali memperlihatkan bahwa Islamisasi di timur Nusantara tidak terjadi secara seragam, melainkan melalui jaringan ulama kosmopolit yang bergerak dari Timur Tengah, India, hingga Asia Tenggara. Dari Karbala ke Ternate, Buton, dan Bone, perjalanan hidupnya menandai pertemuan antara tradisi global Islam dan budaya lokal Nusantara. Dalam perjalanan panjang sejarah Islam di Sulawesi Selatan, figur ini menjadi salah satu simpul penting yang menghubungkan tradisi keilmuan Timur Tengah dengan praktik keislaman masyarakat Bugis yang hingga kini tetap kaya dengan nuansa sufistik.