Sullam al-Mantiq:Tangga Nalar Santri

EndyNU
Sullam al-Mantiq: Tangga Nalar Santri

Di pesantren sunyi nan bersahaja,
Sullam al-Mantiq pun mulai dibaca.
Nazham indah karya sang ulama,
Menuntun logika menuju cahaya.

Bait demi bait disusun rapi,
Mengasah akal, menuntun hati.
Tasawwur, tasdiq, hingga qiyas dijalani,
Agar nalar tak mudah terseret ilusi.

Dalam kulli dan juz’i yang tertata,
Tersimpan hikmah ilmu yang mulia.
Membedah makna tanpa dusta,
Mengikat nalar dengan adab yang nyata.

Syekh al-Akhdari, sang penyair bijak,
Menyulam ilmu dalam bentuk nazham yang ajek.
Santri menghafal di bawah cahaya lampu,
Dengan sabar menapaki tangga ilmu.

Logika bukan alat sombong berkuasa,
Tapi penuntun agar berpikir tanpa cela.
Menjaga dalil, menyaring kata,
Menyambung wahyu dengan nalar yang peka.

Di balik baitnya tersimpan petuah,
Berpikir teratur sebagai sebuah ibadah.
Menyusun dalil dalam susunan yang sah,
Agar kebenaran tak mudah disalah arah.

Ia bukan sekadar filsafat Yunani,
Tapi warisan ulama yang disaring murni.
Berpadu syariat, berpijak pada ilahi,
Menjadi bekal santri meniti hari.

Sullam al-Mantiq bukan hanya hafalan,
Tapi latihan jiwa dalam kecermatan.
Menghindar dari sesat pikir dan kebingungan,
Meraih ilmu dengan penuh keikhlasan.

Wahai santri, peluklah ia dengan cinta,
Dengan niat tulus menuntut ridha-Nya.
Sebab logika, bila diiringi iman,
Akan menuntunmu ke jalan Tuhan.

Tangga mantiq tak hanya dunia,
Ia pancarkan sinar di alam baka.
Menjadi bekal, menjadi cahaya,
Untuk meniti shirath menuju surga.