Sang Aktivis Bersimpuh

EndyNU

Sang Aktivis Bersimpuh

Di sebuah desa yang sunyi di pinggiran kota, seorang pria muda bernama Rahmat berjalan perlahan di jalan setapak menuju masjid. Wajahnya teduh, langkahnya mantap, dan sorot matanya tak lagi menyimpan gelora pemberontakan seperti dulu. Rahmat adalah seorang aktivis yang pernah dikenal luas karena kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat. Dari pelosok desa di Sulawesi Selatan hingga pesisir Sulawesi Barat, ia hadir sebagai pelita, membakar semangat warga agar bangkit dari keterpurukan.

Di usia mudanya, Rahmat adalah sosok idealis. Ia bicara lantang tentang keadilan sosial, ketimpangan, dan pentingnya pendidikan. Ia mendirikan komunitas, mengorganisir pelatihan, bahkan melobi lembaga internasional demi program-program rakyat kecil. Namanya harum di kalangan aktivis muda. Namun di balik semua itu, Rahmat kerap abai terhadap hubungan spiritualnya. Ia lahir dan besar dari lingkungan organisasi Islam, bahkan pernah menjadi kader dakwah semasa kuliah. Tapi dalam perjalanannya, semangat perubahan duniawi perlahan menyingkirkan rutinitas rohaninya.

Shalatnya kerap tertunda atau bahkan terlewat, puasa sunnah tinggal kenangan, tilawah Al-Qur’an hanya menjadi hiasan di awal tahun. Ia terlalu sibuk menolong manusia hingga lupa bersimpuh kepada Yang Menciptakan manusia. Berkali-kali ia merasa hatinya hampa, namun ditutupnya dengan kesibukan baru, program baru, dan mimpi-mimpi besar yang seolah tak boleh berhenti.

Puncaknya terjadi saat program besar yang ia rancang selama setahun penuh gagal total. Dana macet, relawan mundur, dan warga mulai kehilangan kepercayaan. Rahmat terduduk lama di ruang kosong sekretariat. Tak ada lagi suara gemuruh tepuk tangan, tak ada sorak sorai keberhasilan. Hanya hening dan bayang-bayang kekecewaan. Di tengah kehancuran itu, ia membuka tasnya, dan matanya jatuh pada mushaf kecil yang selalu ia bawa namun jarang ia sentuh. Jemarinya gemetar saat menyentuh lembar pertama.

Malam itu, Rahmat untuk pertama kalinya menangis dalam sujud yang panjang. Bukan karena kegagalan program, tapi karena ia merasa jauh, sangat jauh, dari Tuhannya. Ia merasa malu telah menyebut diri sebagai aktivis Islam, padahal ia mengabaikan esensi dari Islam itu sendiri: penghambaan. Dalam diam malam, Rahmat bersimpuh, bukan sebagai orator, bukan sebagai pelopor gerakan, tapi sebagai hamba yang tersesat dan kini merindukan pulang.

Hari-hari setelahnya, Rahmat tak berubah menjadi ustaz atau penceramah. Ia tetap aktivis, tetap mengajar di desa-desa, tetap menulis dan bergerak. Tapi ada yang berbeda. Ia kini selalu menyelipkan waktu untuk shalat tepat waktu, mengawali rapat dengan dzikir, menutup kegiatan dengan doa yang khusyuk. Ia tak lagi merasa hebat saat dipuji, karena ia tahu siapa pemilik segala kekuatan dan hasil.

Para sahabatnya mulai menyadari perubahan itu. Rahmat menjadi lebih tenang, lebih bijaksana, dan lebih rendah hati. Ia tak lagi mudah terpancing ego atau amarah. Bahkan ketika programnya tak berjalan sempurna, ia kini lebih bisa menerima dan berserah. Ia menyebutnya sebagai “ikhtiar yang diridhai”, bukan sekadar keberhasilan manusia.

Ia juga mulai rutin hadir di masjid, mengisi waktu subuh dengan tadabbur, dan malamnya dengan tahajud sunyi. Dalam diam ia memahami, bahwa sebenar-benar perjuangan bukan hanya menegakkan keadilan sosial, tapi juga menyambungkan kembali manusia dengan Tuhan-Nya. Ia mengerti, bahwa perubahan sejati adalah perubahan yang dimulai dari dalam jiwa.

Salah satu anak muda yang pernah menjadi muridnya bertanya suatu hari, “Bang Rahmat, apa yang membuat abang sekarang lebih tenang?” Rahmat tersenyum, “Karena aku akhirnya menemukan bahwa bersimpuh di hadapan Tuhan tak pernah membuat langkahku melemah. Justru dari situ aku menguat.” Jawaban itu disimpan anak muda itu dalam hatinya, dan menjadi cahaya baru bagi langkah-langkahnya ke depan.

Rahmat kini tidak hanya menjadi aktivis perubahan sosial, tapi juga penyeru ke dalam perubahan diri. Ia tak lagi berdiri di atas mimbar hanya untuk menyuarakan kebijakan, tapi juga mengajak untuk menyusuri jalan kembali pada Tuhan. Ia tak pernah mengaku suci, tapi selalu mengingatkan, bahwa setiap jiwa butuh momen bersimpuh.

Kini, tiap kali langit mulai menggelap, Rahmat lebih dulu menggelar sajadahnya. Di atasnya, ia menangis, berdoa, meminta ampun, dan bersyukur. Ia tahu, jalan ini masih panjang. Tapi kini ia melangkah dengan keyakinan yang berbeda. Karena ia bukan lagi sekadar aktivis. Ia adalah aktivis yang bersimpuh.