Pesan Bijak Anregurutta Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma: Dekatlah Ulama atau Ziarahi Kuburnya

Pesan Bijak Anregurutta Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma: Dekatlah Ulama atau Ziarahi Kuburnya

Oleh:Zaenuddin Endy
Koordinator Instruktur Kader Penggerak NUsantara Sulawesi Selatan

Anregurutta Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma adalah salah satu ulama besar yang menjadi Muassis atau pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan. Beliau juga seorang mursyid tarekat Syekh Yusuf Al-Makassari yang menuntun banyak murid dalam perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah. Kiprah dan ketokohannya tak hanya membangun fondasi keislaman yang kuat di Sulawesi Selatan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai tasawuf yang mendalam kepada para pengikutnya. Sosoknya dikenal sebagai ulama yang tegas dalam prinsip, lembut dalam tutur kata, serta penuh hikmah dalam setiap nasihatnya.

Di antara pesan bijak yang diwariskan oleh Anregurutta Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma adalah sebuah perumpamaan yang penuh makna: “Kalau tidak bisa jadi lampu, dekatlah dengan lampu. Kalau tidak bisa jadi kipas angin, dekatlah dengan kipas angin. Kalau tidak bisa jadi ulama, dekatlah dengan ulama atau ziarahi kuburnya.” Nasihat ini bukan sekadar ungkapan, tetapi sebuah pedoman bagi siapa saja yang ingin memperoleh keberkahan dalam hidup.

Perumpamaan tentang “lampu” menggambarkan seorang alim, seorang ulama yang membawa cahaya ilmu dan hidayah bagi umat. Tidak semua orang mampu menjadi ulama yang memiliki ilmu mendalam, tetapi setiap orang bisa mendekat kepada mereka, belajar dari kebijaksanaan mereka, dan mengikuti jejak kebaikan yang mereka tinggalkan. Dengan berada di dekat ulama, seseorang akan mendapatkan cahaya yang menerangi jalannya, sebagaimana seseorang yang berada dekat dengan lampu tidak akan tersesat dalam kegelapan.

Sementara perumpamaan “kipas angin” melambangkan orang-orang yang memberikan kesejukan, ketenangan, dan manfaat bagi sesama. Jika seseorang tidak mampu menjadi sosok yang menyejukkan, setidaknya ia bisa mendekat kepada mereka yang memiliki sifat tersebut. Dalam kehidupan ini, ada banyak orang yang membawa keteduhan hati, ketenangan jiwa, dan kesejukan dalam menghadapi masalah. Dengan mendekati mereka, kita akan belajar bagaimana menjaga hati dan memberikan manfaat bagi sesama.

Pesan bijak ini juga menekankan pentingnya hubungan dengan ulama. Jika seseorang tidak bisa menjadi ulama, maka hendaknya ia tetap berada dalam lingkaran mereka, berusaha dekat dengan para alim yang memiliki ilmu agama yang mendalam. Dekat dengan ulama bukan hanya berarti secara fisik, tetapi juga mengikuti ajaran dan nasihat mereka, mengamalkan ilmu yang mereka ajarkan, serta menjadikan mereka sebagai teladan dalam hidup.

Lebih jauh, beliau mengajarkan bahwa jika seseorang tidak sempat atau tidak bisa menemui ulama, maka berziarah ke makam mereka adalah salah satu cara untuk tetap mendapatkan keberkahan. Ziarah kubur bukan sekadar mengunjungi makam, tetapi merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah menanamkan ilmu dan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan umat Islam. Dalam banyak ajaran tasawuf, ziarah kubur ulama juga diyakini sebagai salah satu bentuk mencari keberkahan, sebab mereka adalah kekasih-kekasih Allah yang ilmunya tetap hidup meskipun mereka telah wafat.

Selain itu, Anregurutta Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma juga menegaskan bahwa berada di dekat ulama bukan hanya berarti secara fisik, tetapi juga dalam hal spiritual. Menghormati ilmu yang mereka tinggalkan, membaca kitab-kitab mereka, serta mengamalkan ajaran mereka adalah bentuk kedekatan yang sejati. Orang yang dekat dengan ulama akan terbawa pada kebaikan, sebagaimana seseorang yang berada di dekat bunga akan ikut terkena harumnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya dapat diperoleh oleh mereka yang mencari dan mendekatinya. Sebagaimana lampu tidak akan menerangi orang yang menjauhinya, ilmu juga tidak akan masuk ke dalam hati mereka yang enggan mendekati ulama. Oleh karena itu, beliau mendorong umat Islam untuk selalu haus akan ilmu, mencari bimbingan dari para ulama, dan menjadikan mereka sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang merasa cukup hanya dengan beribadah tanpa mendalami ilmu agama. Pesan bijak ini menjadi pengingat bahwa ilmu dan bimbingan ulama sangat penting dalam menjaga keistiqamahan seseorang. Tanpa ilmu, ibadah bisa menjadi kosong dan tanpa arah. Tanpa bimbingan ulama, seseorang bisa tersesat dalam pemahaman yang keliru.

Anregurutta juga menanamkan dalam sanubari murid-muridnya bahwa kedekatan dengan ulama adalah bentuk investasi akhirat. Orang yang mencintai ulama dan berusaha mendekat kepada mereka akan mendapatkan keberkahan ilmu, nasihat, dan doa yang bermanfaat. Bahkan setelah ulama wafat, doa dan ilmu yang mereka tinggalkan tetap menjadi cahaya bagi mereka yang mengikuti jejaknya.

Sebagai seorang mursyid tarekat, Anregurutta Syekh Djamaluddin Assegaf Puang Ramma juga menekankan pentingnya adab dalam mendekati ulama. Kedekatan dengan ulama bukan hanya sekadar mencari ilmu, tetapi juga menghormati mereka, menjaga etika dalam menuntut ilmu, serta berusaha mengamalkan apa yang diajarkan. Adab yang baik kepada ulama akan membuka pintu ilmu yang lebih luas dan membawa keberkahan dalam hidup.

Pesan bijak beliau ini tetap relevan hingga hari ini, mengingat pentingnya peran ulama dalam menjaga umat dari berbagai tantangan zaman. Di tengah maraknya informasi yang membingungkan, bimbingan ulama menjadi sangat penting agar umat tetap berada di jalan yang benar. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin mendapatkan petunjuk dan ketenangan hidup harus mendekat kepada ulama, mengikuti ajaran mereka, dan mengambil berkah dari ilmu yang mereka wariskan.

Wallahu A’lam Bissawab