Persembahan untuk Ruh Nabi
Persembahan untuk Ruh Nabi
Kutulis namamu dengan tinta cinta,
dalam senyap malam yang sujud makna,
wahai Nabi, cahaya awal dan akhir,
padamulah hati ini terus mengalir.
Bukan sekadar kata yang kugoreskan,
tapi ruh yang rindu dalam kesunyian,
dalam lembar-lembar yang penuh doa,
kusampaikan salam, persembahan jiwa.
Engkaulah cahaya yang tak pernah padam,
di langit hati, engkau terus bersinar terang,
wahai ruh yang suci dan agung mulia,
hadirkan damai dalam dada yang gelisah.
Salawat kusemai dari lubuk terdalam,
dengan harap engkau datang dalam mimpi malam,
bukan untuk melihat wajahmu semata,
tapi untuk memeluk akhlakmu yang nyata.
Cintaku padamu tak berbatas kata,
ia hidup di antara bisik dan air mata,
dalam tiap langkah, aku cari jejakmu,
dalam tiap sunyi, aku rindu suaramu.
Kitab ini kutulis bukan untuk dunia,
melainkan untuk ruhmu yang bercahaya,
semoga sampai salam ini, wahai Nabi,
dari hati yang penuh rindu dan janji.
Aku bukan siapa-siapa di hadapanmu,
hanya pecinta yang menanti restumu,
dalam zikir dan salawat yang kubaca,
kutautkan diri pada cahaya yang kau bawa.
Rasul, bimbing aku dalam gelap dunia,
agar tak tersesat dari jalan syari’ah,
ajariku cinta yang tak menuntut balas,
yang hanya ingin dekat, tak ingin lepas.
Dalam tiap nama yang kusebut dalam doa,
namamulah yang pertama kusebut mesra,
karena kaulah jalan, penuntun hakiki,
pembuka hijab menuju Ilahi Rabbi.
Tuhfat ini bukan milikku sendiri,
ia milik siapa saja yang rindu nabi,
yang ingin mencintai dan dicintai,
oleh manusia termulia sepanjang hari.
Bersamamu, ya Rasul, aku ingin hidup,
bersamamu pula aku ingin wafat,
di bawah panji syafaatmu kelak,
dengan kitab ini sebagai saksi yang tak retak.