Nyanyian Bumi dan Ruh
Nyanyian Bumi dan Ruh
Di jantung hijau hutan lebat,
terdengar bisik halus semesta:
“Akulah napas yang kau hirup,
ranting tempat doamu menua.”
Di bening mata sungai purba,
mengalir ayat tak tertulis:
“Jagalah arusku,
di riaknya berlabuh rindu para ikan.”
Langit menorehkan firman cahaya,
megah tanpa suara;
menegur lantang keserakahan,
mengundang syukur sederhana.
Tanah yang kau injak bersyahadat,
berjanji setia pada benih;
ia mengingat tiap tetes peluh,
dan luka tajam bajak tamak.
Burung-burung jadi muadzin,
mengepakkan takbir pagi;
menggugah hati yang beku,
agar terbit kasih pada rerumputan sunyi.
Gunung berdzikir dalam sepi,
dada batu bergeletar nama-Nya;
menahan amarah magma
demi nyala pelita di pondokmu.
Di sunyi laut terdalam,
karang bersujud merah jingga;
menyimpan tasbih plankton
yang tak pernah kau dengar nadanya.
Wahai khalifah bercahaya,
bukalah hatimu seluas rimba;
puasakan nafsu menjarah,
sajikan cinta pada semesta.
Sebab merawat bumi adalah sembahyang,
di altar angin dan hujan;
doa paling jernih terlontar
pada setiap bibit yang dijejak harapan.
Dan kelak jika daun terakhir gugur,
biarlah ia jatuh dalam pelukan lembutmu;
menandai janji baru kehidupan,
saat manusia dan alam bersatu, merdeka dalam rida Tuhan.
EndyNU