Nurani di Tengah Realitas

“Nurani di Tengah Realitas”

Di jalan keras penuh batu,
kulangkahkan kaki dengan ragu.
Langit bicara lewat luka,
tanah bergetar oleh air mata.

Realitas menampar wajah-wajah lelah,
menggoda nurani agar pasrah.
Namun di dada, suara halus tak pernah padam,
mengajakku tetap berjalan dalam diam.

Aku bisa memilih menjadi batu,
menyatu dalam bisu waktu.
Tapi nurani adalah nyala yang kupeluk,
meski dunia memaksaku tunduk.

Tak ada kemewahan dalam pilihan ini,
hanya ketulusan yang tak pernah mati.
Karena menjadi manusia bukan tentang menang,
tapi tentang bagaimana tetap tenang di jalan yang benderang.

Biar dunia menertawakan kelembutan,
biar langkah kecil dianggap lamban.
Asal nurani masih kutemukan di dada,
aku tahu arah pulangku ada.

EndyNU
17/06/25