Negeri yang Belum Selesai

Negeri yang Belum Selesai

Langit sore di ibu kota tampak seperti kanvas kelabu yang nyaris tak berbentuk. Bangunan-bangunan menjulang mencakar angkasa, seakan ingin menunjukkan kekuasaan yang tak tergapai. Namun di antara gedung-gedung mewah itu, masih terdengar suara adzan dari masjid kecil yang terjepit antara toko elektronik dan lahan parkir.

Di dalam masjid itulah, duduk seorang pria tua dengan peci hitam dan sorban lusuh. Namanya Haji Burhan, mantan aktivis tahun 1960-an yang kini memilih hidup sederhana. Ia adalah salah satu sahabat Kiai Ma’ruf yang selamat dari badai sejarah, dan kini menjadi penjaga sunyi di tengah hiruk pikuk ibukota. Meski tubuhnya melemah, ingatannya masih tajam.

Setiap malam Jumat, Haji Burhan menyampaikan pengajian kecil. Tapi lebih dari itu, ia bercerita tentang sejarah yang tak tertulis—tentang bagaimana para ulama NU dulu berembuk dalam diam, menyampaikan pandangan ke negara tanpa menginginkan pujian, dan menjaga nilai bangsa tanpa menguasainya.

“Negeri ini belum selesai,” katanya suatu malam. “Ia masih mencari arah, masih gamang. Maka jangan serahkan sepenuhnya kepada politik. Serahkan juga kepada nurani.” Para jamaah mendengarkan, sebagian mengangguk, sebagian lainnya tertunduk menahan haru. Kata-kata itu bukan sekadar nasihat; ia adalah kesaksian hidup.

Suatu hari, Alif Zaki datang ke masjid itu. Ia mendengar tentang Haji Burhan dari Kiai Sholeh. Mereka berbincang lama di serambi masjid yang sepi, membicarakan negara, agama, dan masa depan. Alif bertanya, “Apakah semua pengorbanan Kiai Ma’ruf dan para ulama sunyi itu tidak sia-sia?”

Haji Burhan menatap langit. “Tidak pernah sia-sia. Karena mereka menanam, bukan untuk panen pribadi, tapi untuk kebun yang akan memberi makan generasi mendatang.”

Malam itu, Alif kembali ke penginapannya dan menulis: “Negeri ini belum selesai, karena memang bangsa tak pernah selesai. Tapi selama ada mereka yang menjaga akarnya, batang dan daunnya tak akan runtuh. Mereka itulah para penjaga sunyi.”

Dari catatan itu, Alif mulai menyusun buku yang lebih utuh, yang tak hanya memuat risalah, tapi juga potret pertemuan, pengalaman lintas pesantren, forum-forum kecil, dan rekaman suara hati rakyat yang tertinggal di pinggir sejarah.

Ia beri judul bukunya: “Negeri yang Belum Selesai: Hikayat Para Penjaga Sunyi”. Buku itu kemudian diterbitkan dan diam-diam menjadi bahan kajian di kalangan mahasiswa, jurnalis muda, dan bahkan para pengambil kebijakan yang masih punya nurani.

Tak lama setelah itu, masjid kecil tempat Haji Burhan mengajar direnovasi oleh jamaah muda yang terinspirasi bukunya Alif. Tapi mereka sepakat untuk tidak mengubah bentuk asli masjid. “Kami ingin menjaga kenangan, bukan menggantinya,” ujar salah satu pemuda.

Dan suatu malam, ketika Alif kembali ke masjid itu, ia menemukan di dindingnya tergantung kalimat dari Kiai Ma’ruf yang diukir dengan kayu jati tua:
“Suatu negeri akan selesai, bukan ketika semuanya lengkap, tapi ketika nurani menjadi arah, bukan hanya alat.”