Negeri Bersedekap Antara Suara dan Cela

Kami menyebutmu demokrasi,

sambil menuding dengan jari yang gemetar.

Katanya semua bebas bicara,

nyatanya tak semua bebas dihormati.

Di mimbar-mimbar kuasa, kata “rakyat” dimuliakan,

namun di linimasa, rakyat saling merendahkan.

Suara keras dianggap benar,

akal sehat sering kalah oleh dengung kebencian.

Bendera berkibar megah di dada,

tetapi adab tersimpan di saku paling dalam.

Perbedaan bukan lagi ruang dialog,

melainkan palu untuk memecah wajah sesama.

Hukum dibacakan dengan suara tegas,

namun keadilan berjalan tertatih.

Yang kecil cepat diputus bersalah,

yang besar sibuk merundingkan dalih.

Kami gemar berteriak atas nama kebebasan,

tanpa belajar menahan diri.

Kritik kehilangan akarnya,

berubah jadi cela yang dipoles keberanian palsu.

Pemimpin diseret ke panggung ejekan,

bukan diuji oleh pikiran dan kebijakan.

Sebaliknya, rakyat pun tak luput,

diperlakukan sebagai angka, bukan manusia.

Media menjelma altar penghakiman,

siapa viral, dialah hakim sementara.

Benar dan salah tak lagi dicari,

cukup siapa paling ramai dicela.

Indonesia, engkau berdiri di persimpangan,

antara demokrasi yang beradab

atau negeri yang mahir menghina

atas nama kebebasan.

Sebab demokrasi bukan hanya hak bersuara,

melainkan kesanggupan menjaga martabat.

Jika suara tak lagi mengenal etika,

maka yang mati bukan kekuasaan,

tetapi nurani kita sendiri.