Mutiara yang Tak Terkikis Zaman
Mutiara yang Tak Terkikis Zaman
Dalam senyap malam yang berselimut dzikir,
kutemukan cahaya yang tak pernah pudar,
di antara lembaran mutiara yang bersinar,
kutemui suara jiwa yang sabar dan sadar.
Wahai Syekh Yusuf, pena dan jiwamu berpadu,
melukis jalan ruhani yang lurus dan syahdu,
Ad-Dur al-Nafis, namamu abadi dalam kata,
memanggil hati kembali pada fitrah yang nyata.
Engkau ajarkan bahwa hidup bukan sekadar langkah,
tapi perjalanan hati mencari cahaya yang cerah,
bukan pada dunia yang fana dan bergemuruh,
tapi pada Tuhan yang dekat dalam diam dan teduh.
Kau bimbing kami menyusuri maqam suci,
dari taubat hingga fana, luruh tanpa henti,
setiap tahapmu laksana anak tangga menuju cahaya,
dalam sabar, dalam cinta, dalam tawakal yang mesra.
Hatimu laksana cermin yang tak memantulkan dunia,
namun menangkap wajah Ilahi dalam setiap doa,
dalam muraqabah, kami merasa selalu diawasi,
hingga amal tak jadi topeng, dan zikir tak jadi basa-basi.
Engkau tak meninggalkan syariat dalam kata,
bahkan menjadikannya pondasi cinta dan tata,
sebuah pengingat bahwa tasawuf bukan pelarian,
tapi pendalaman yang bersandar pada keimanan.
Adab, akhlak, dan kasihmu menjadi cahaya,
menghidupkan jiwa dalam relasi sesama,
bukan hanya sufi yang larut dalam sunyi,
tapi manusia yang hadir, penuh empati.
Doa-doamu adalah desah yang menggugah,
lirih namun dalam, sederhana tapi megah,
menyadarkan kami akan rendahnya diri,
di hadapan Tuhan yang tak pernah pergi.
Zaman berubah, dunia pun berganti rupa,
namun mutiara ini tetap bersinar nyata,
menjadi lentera di kegelapan zaman,
penawar hati yang haus akan harapan.
Ad-Dur al-Nafis, engkau bukan hanya kitab,
engkau adalah pelita, penghapus debu dan kabut,
warisan dari seorang wali yang tak kenal lelah,
mendekap kami menuju cinta yang tak terpecah.