Lentera Para Murid
Di malam sunyi kulangkahkan kaki,
menuju jalan yang tak dijanjikan nyaman,
di sana kutemui lentera berseri,
bernama Al-Munir, penuntun jalan ke Tuhan.
Syekh Yusuf, mursyid penuh kasih,
menyulam petunjuk dari cahaya batin,
bukan hanya kata yang ia tulis,
tapi hikmah yang lahir dari rindu yang dalam.
Ia ajarkan kami tentang taubat sejati,
melepas dunia, mendekap keikhlasan,
agar hati ini tak lagi ternoda,
oleh riya, oleh ambisi yang tak berujung.
Langkah demi langkah dijelaskan rapi,
dari dzikir lirih hingga fana dalam-Nya,
agar kami, para murid yang rapuh ini,
menemukan makna hidup dalam sunyi-Nya.
Syekh berkata, mursyid itu cahaya,
bukan penguasa, tapi sahabat ruhani,
tanpa dia, gelap menyelimuti jiwa,
dan suluk menjadi badai yang menderu tanpa kendali.
Ia ingatkan kami akan jebakan nafsu,
yang menyamar jadi karamah palsu,
agar kami tak terjebak kekaguman diri,
dan tetap tunduk dalam sujud yang murni.
Uzlah bukanlah pelarian semu,
tetapi jeda untuk menata jiwa,
agar kembali ke dunia dengan hati bersih,
menjadi cahaya di tengah manusia.
Syekh Yusuf bukan hanya menulis,
ia menyirami hati yang haus,
dengan dzikir, adab, dan kesabaran,
hingga kami tak sekadar tahu, tapi mengenal Tuhan.
Al-Munir bukan kitab biasa,
ia jendela menuju samudra makrifat,
di dalamnya kami belajar menangis,
bukan karena sedih, tapi karena rindu yang tak terbatas.
Dalam jalan sunyi ini kami terus melangkah,
dengan lentera ajaran yang tak pernah padam,
Syekh Yusuf adalah pelita abadi,
penunjuk kami menuju Ridha-Nya yang hakiki.
Semoga kami termasuk para murid,
yang menghidupkan ilmu bukan hanya di kepala,
tetapi dalam sikap, dalam amal,
hingga hidup ini menjadi suluk yang sempurna.