Lentera Mustarsyidin
EndyNU
Lentera Mustarsyidin
Di malam sunyi pesantren bersinar,
Lembaran kitab tua perlahan dibuka,
Bughiyatul Mustarsyidin, cahaya yang mengakar,
Di tangan santri, ilmu menetas tak henti juga.
Tinta ulama dari Hadhramaut bersuara,
Menjawab zaman dengan fikih yang nyata,
Tak sekadar hukum, tapi hikmah yang bicara,
Mengurai hidup dalam benang syari’ah yang indah terbata.
Sorogan tenang, bandongan mendalam,
Santri menyimak dalam hening dan hormat,
Setiap fatwa bukan sekadar dalam,
Tapi petunjuk jalan bagi hidup yang selamat.
Adab, muamalah, dan dzikir berpadu,
Menyatu dalam bait yang penuh makna,
Mengikat dunia pada tali rindu,
Akan Tuhan yang dekat, meski tersembunyi di balik fana.
Kiai memetik hikmah dari makna,
Menguraikannya dalam bahasa lokal yang ramah,
Menyatukan langit fikih dan bumi budaya,
Agar syari’ah hidup, bukan hanya di kitab rumah.
Santri menatap masa depan yang panjang,
Dengan lentera kuning dari zaman silam,
Tak gentar oleh zaman yang bimbang,
Sebab telah mereka genggam pedoman yang dalam.
Fatwa ditulis dari nur dan rasa,
Tak hanya dalil, tapi juga cinta,
Membimbing umat agar tak salah arah,
Di tengah gelombang zaman yang penuh nestapa.
Pesantren menjadi benteng dan samudra,
Tempat kitab ini dibaca dan dijaga,
Agar Islam rahmah terus menyapa,
Hingga ke pelosok desa dan penjuru kota.
Lembaran usang tetap bergema,
Sebab ruhnya tak pernah pudar oleh masa,
Dalam Bughiyatul Mustarsyidin kita percaya,
Ilmu dan hikmah terus menjelma.
Wahai santri, pegang erat kitab warisan,
Jadikan ia bekal bukan hanya bacaan,
Tegakkan adil, sebarkan kedamaian,
Dengan fikih yang hidup, bukan sebatas hafalan.
Beginilah kitab itu berbicara lembut,
Menyapa hati, menuntun langkah yang lurus,
Dalam tiap hurufnya ada cahaya yang menyambut,
Mengantar jiwa menuju ridha yang tulus.