Kurangnya Syiar Islam, Aliran Baru Bisa Muncul
Kurangnya Syiar Islam, Aliran Baru Bisa Muncul
Oleh:Zaenuddin Endy
Ketua Harian DPP Ikutan Alumni Pesantren Modern (IKAPM) Aljunaidiyah Bone
Fenomena munculnya aliran-aliran baru dalam masyarakat Indonesia kerap menjadi perhatian serius, baik dari kalangan akademisi, tokoh agama, maupun pemerintah. Keberadaan aliran-aliran tersebut sering kali dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, alih-alih hanya menyalahkan pihak-pihak tertentu yang menyebarkan ajaran menyimpang, perlu dilakukan refleksi yang lebih mendalam terhadap akar permasalahannya. Salah satu faktor yang patut dicermati adalah kurangnya syiar Islam yang merata, khususnya di pelosok-pelosok kampung yang jauh dari pusat-pusat pendidikan agama.
Syiar Islam pada dasarnya adalah upaya menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat luas, baik melalui dakwah lisan, tulisan, maupun keteladanan. Namun, dalam praktiknya, syiar ini tampaknya lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Di kota-kota besar, pengajian, majelis ilmu, dan kegiatan keagamaan lainnya tumbuh subur. Akses terhadap kajian Islam sangat mudah diperoleh melalui berbagai platform digital, media sosial, hingga televisi. Sementara itu, masyarakat di pelosok sering kali tertinggal dalam hal akses terhadap pemahaman Islam yang komprehensif.
Ketimpangan dalam distribusi dakwah ini membuka ruang kosong yang kemudian diisi oleh ajaran-ajaran yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai Islam yang otentik. Di daerah-daerah yang minim sentuhan dakwah, muncul tokoh-tokoh lokal yang mengklaim memiliki pengetahuan agama dan kemudian mengembangkan ajaran sendiri. Kurangnya pembinaan dan pendampingan keagamaan yang memadai membuat masyarakat mudah menerima ajaran tersebut tanpa proses verifikasi yang kritis.
Tidak sedikit dari aliran-aliran baru yang muncul membawa semangat spiritualitas dan janji keselamatan yang menarik perhatian masyarakat awam. Di tengah kegersangan rohani dan ketiadaan bimbingan ulama, ajaran yang menjanjikan jalan pintas menuju ketenangan batin kerap dianggap sebagai solusi. Apalagi jika dibungkus dengan ritual-ritual yang bersifat magis atau mistik, aliran tersebut menjadi semakin menarik di mata masyarakat kampung yang masih menjunjung tinggi budaya lokal.
Fakta ini menunjukkan bahwa sentuhan ruhani dari syiar Islam tidak hanya diperlukan di kota-kota besar, melainkan harus merata hingga pelosok-pelosok. Ketika ruh Islam tidak menyentuh kehidupan masyarakat secara menyeluruh, ruang kosong keagamaan akan diisi oleh interpretasi yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, penting bagi lembaga-lembaga keagamaan untuk memperluas jangkauan dakwahnya ke wilayah-wilayah terpencil yang selama ini kurang tersentuh.
Kemajuan teknologi semestinya bisa dijadikan alat untuk menjangkau masyarakat pelosok dengan konten dakwah yang mudah dipahami dan relevan dengan kondisi mereka. Namun, dalam kenyataannya, konten-konten dakwah yang beredar di media sosial lebih banyak menyasar masyarakat kota yang memiliki akses internet stabil dan kemampuan literasi digital. Sementara masyarakat di desa masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan sumber daya untuk mengakses dakwah secara daring.
Hal ini tentu membutuhkan pendekatan yang lebih humanis dan kontekstual. Para dai dan ustaz tidak hanya dituntut untuk memahami teks-teks keislaman, tetapi juga harus mampu memahami konteks sosial, budaya, dan psikologis masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Dengan pendekatan yang tepat, syiar Islam bisa masuk ke relung-relung kehidupan masyarakat dan mencegah tumbuhnya paham-paham baru yang menyesatkan.
Di samping itu, regenerasi dai di tingkat lokal juga penting untuk diperhatikan. Banyak kampung yang tidak memiliki dai tetap yang membina masyarakat secara rutin. Hal ini menjadi celah besar yang membuat masyarakat mencari bimbingan agama dari tokoh-tokoh tidak kompeten. Oleh karena itu, kaderisasi dai yang berasal dari komunitas lokal bisa menjadi strategi jangka panjang yang efektif untuk meratakan syiar Islam.
Kehadiran pondok pesantren, TPA, atau madrasah di daerah pelosok juga perlu lebih digalakkan dan didukung oleh kebijakan negara. Lembaga-lembaga ini bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat syiar dan pembinaan masyarakat secara menyeluruh. Ketika lembaga pendidikan Islam hadir di tengah masyarakat, maka penyebaran ajaran Islam akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pemerintah, organisasi Islam, dan tokoh masyarakat memiliki peran penting untuk menciptakan ekosistem dakwah yang berkelanjutan. Sinergi antar berbagai pihak ini dapat mengisi kekosongan spiritual yang selama ini menjadi pemicu lahirnya aliran-aliran baru. Ketika masyarakat merasa mendapatkan perhatian, pembinaan, dan penguatan nilai-nilai keislaman secara terus menerus, mereka tidak akan mudah tergoda oleh ajaran yang menyimpang.
Oleh karena itu, fenomena munculnya aliran-aliran baru tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan individu atau kelompok tertentu. Ini merupakan cerminan dari masih lemahnya syiar Islam yang merata dan berkesinambungan. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk menjadikan dakwah sebagai gerakan yang inklusif, menjangkau semua lapisan masyarakat, baik yang di kota maupun di pelosok-pelosok desa.
Dengan demikian, membangun jaringan dakwah yang menyeluruh dan menyentuh aspek ruhani masyarakat merupakan kebutuhan mendesak. Tanpa syiar Islam yang kuat dan merata, kita akan terus menyaksikan munculnya aliran-aliran baru yang bisa menyesatkan umat. Maka, memperkuat syiar Islam di seluruh pelosok negeri adalah langkah strategis untuk menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus memperkokoh keimanan umat.
Wallahu A’lam Bissawab