KH. Rafi Sulaiman: Jejak Muassis NU Bone

KH. Rafi Sulaiman: Jejak Muassis NU Bone
Oleh: Zaenuddin Endy

Nama KH. Rafi Sulaiman mungkin tak setenar tokoh-tokoh nasional pendiri Nahdlatul Ulama (NU), tetapi jejak perjuangannya sebagai muassis NU di Bone, Sulawesi Selatan, menempati posisi penting dalam sejarah penyebaran Islam tradisional dan pembentukan infrastruktur keagamaan di kawasan timur Indonesia. Beliau bukan hanya ulama yang mendalami ilmu-ilmu keislaman secara mendalam di Makkah, tetapi juga seorang qadhi (Petta Kalie) yang memainkan peran strategis dalam penyatuan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal (ade’) Kerajaan Bone.

KH. Rafi Sulaiman lahir pada tahun 1917 di tengah lingkungan keluarga ulama yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam Bugis. Pada usia 17 tahun, tepatnya pada April 1933, beliau menempuh perjalanan intelektual ke Tanah Suci. Di Makkah, ia belajar di Madrasah Darul Falah selama kurang lebih 13 tahun, memperdalam ilmu fiqih, tafsir, hadits, dan tasawuf. Dalam periode tersebut, beliau juga didampingi oleh adiknya, KH. Junaid Sulaiman, yang kelak dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Biru.

Kepulangan KH. Rafi ke tanah air bukan sekadar kembalinya seorang santri dari Hijaz, tetapi juga hadirnya seorang ulama visioner yang langsung dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Qadhi atau Petta Kalie Bone. Perannya sebagai qadhi menjadikannya tokoh penting dalam integrasi hukum Islam (sara’) ke dalam sistem pemerintahan dan adat Bone (ade’). Di tangan beliau, hukum Islam tidak dipertentangkan dengan adat, tetapi dijahit rapi dalam konstruksi kehidupan masyarakat Bugis yang sarat etika dan kearifan lokal.

Sebagai muassis NU di Bone, KH. Rafi Sulaiman tidak hanya membentuk struktur kelembagaan, tetapi juga mengembangkan basis pendidikan keislaman yang kuat. Ia mendirikan madrasah diniyah, membuka pengajian kitab kuning di Masjid Al-Mujahidin Watampone, serta memperkenalkan sistem pengajaran terstruktur dalam ilmu-ilmu agama. Kitab-kitab klasik dalam mazhab Syafi’i menjadi bacaan utama yang diajarkannya kepada para santri dan masyarakat umum.

Keteguhannya dalam mempertahankan nilai-nilai Islam tradisional terlihat dalam sikapnya menghadapi kelompok ekstrem seperti DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Dalam salah satu peristiwa yang dikenal luas di masyarakat Bone, beliau ditangkap dan diadili oleh kelompok tersebut karena menolak melepas sorban. Namun, keilmuan dan ketegasannya membuat mereka justru menghormatinya dan membebaskannya dengan kehormatan, bahkan memintanya untuk tetap mengajar.

KH. Rafi Sulaiman juga dikenal sebagai ulama yang progresif dalam fatwa-fatwanya. Ia dikenal memberi ruang keadilan hukum bagi perempuan, terutama dalam urusan waris, pernikahan, dan zakat. Dalam sejarah lokal, beliau adalah satu-satunya qadhi yang mengeluarkan legitimasi hukum atas pemerintahan sultanah perempuan di Bone, sebuah langkah yang menandai kematangan dan keluwesan ijtihad beliau dalam merespons konteks lokal tanpa mengabaikan prinsip syariat.

Sebagai tokoh yang hidup di masa transisi antara era kerajaan dan kemerdekaan, KH. Rafi Sulaiman juga terlibat dalam wacana keagamaan yang bersifat nasional. NU yang ia bangun di Bone bukan sekadar lembaga, melainkan gerakan keagamaan yang mengakar pada nilai tawassuth, tawazun, dan tasamuh. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Bone sebagai salah satu wilayah dengan tradisi Islam yang moderat, toleran, dan tetap setia pada akar budayanya.

Warisan KH. Rafi Sulaiman terasa hingga kini. Sistem pendidikan diniyah yang ia rintis tetap berkembang dan menjadi bagian penting dari proses transmisi ilmu-ilmu keislaman. Hubungannya dengan Pesantren Al-Junaidiyah dan jaringan alumni yang tersebar luas menjadikan namanya abadi dalam ingatan kolektif masyarakat Bone sebagai ulama yang bukan hanya alim, tetapi juga organisatoris, negarawan, dan pejuang kebudayaan.

KH. Rafi Sulaiman wafat pada tahun 1991, namun pemikirannya terus hidup dalam sistem hukum, tradisi pendidikan, dan gerakan Islam tradisional di Bone. Ia adalah gambaran ideal seorang ulama Nusantara yang tak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga sanggup merajut kearifan lokal dan nilai-nilai Islam dalam satu tarikan nafas. Jejaknya sebagai muassis NU di Bone adalah bagian penting dari sejarah keislaman Sulawesi Selatan yang layak didokumentasikan, dikenang, dan dijadikan inspirasi bagi generasi ulama masa kini.

————–
Koordinator Pendidikan Kader Penggerak Nusantara (PKPNU) Sulawesi Selatan