Ketika Santri Menjaga Marwah di Tengah Perselisihan Para Kiai
Dalam tradisi pesantren, perselisihan antar-kiai bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Perbedaan pandangan dalam ranah fikih, tasawuf, atau strategi dakwah merupakan bagian dari dinamika intelektual yang telah hidup sejak masa para ulama salaf. Namun, bagi para santri, perselisihan itu bukanlah panggung untuk ikut campur, melainkan ruang untuk mempraktikkan adab yang telah mereka pelajari sepanjang masa nyantri.
Santri memahami bahwa kiai adalah pewaris ilmu para nabi. Ketika dua atau lebih kiai berbeda pendapat, santri tidak menilainya sebagai konflik personal, tetapi sebagai ikhtiar para ulama dalam mencari kebenaran menurut kapasitas ilmu masing-masing. Karena itu, mereka memilih bersikap tenang, menjaga lisan, dan tidak tergesa menilai siapa yang benar atau salah.
Sikap utama yang dijunjung santri adalah tawadhu’. Mereka memahami bahwa cakrawala ilmu para kiai terlalu luas untuk diterjemahkan dengan logika santri pemula. Perbedaan pandangan kiai justru mengajarkan bahwa kemuliaan ilmu terletak pada keluasan perspektif, bukan pada keseragaman.
Ketika perselisihan kiai mulai tampak di ruang publik, santri biasanya menarik diri dari keramaian opini. Mereka menghindari pembicaraan yang dapat memperkeruh suasana, sebab mereka tahu bahwa satu kata yang tergelincir dari lisan santri bisa mencoreng marwah pesantren. Diam mereka bukan tanda tidak peduli, tetapi bentuk kehati-hatian dalam menjaga kehormatan guru.
Bagi santri, perselisihan kiai bukan ajakan untuk memilih kubu, melainkan kesempatan untuk melihat bagaimana ulama menyelesaikan perbedaan secara beretika. Mereka percaya bahwa para kiai memiliki kedewasaan spiritual yang membuat mereka mampu kembali rukun setelah perbedaan mereda. Sikap optimistis itu tumbuh dari keyakinan bahwa ilmu membawa keikhlasan, bukan perpecahan.
Santri juga memahami bahwa setiap kiai memiliki pendekatan keilmuan yang berbeda. Ada yang lebih kuat pada ushul, ada yang mendalam pada tasawuf, ada pula yang dikenal dengan ketegasan fatwanya. Perbedaan karakter keilmuan itu membuat santri tidak mudah memihak, sebab mereka tahu setiap kiai memiliki hujjah yang tidak sederhana.
Ketika suasana pesantren mulai hangat oleh perbincangan antarsantri, biasanya para santri sepuh turun meredakan. Mereka menasihati adik-adiknya agar tidak menjadikan perbedaan kiai sebagai bahan perdebatan yang tidak perlu. Pesan mereka sederhana: “Jaga lisanmu, sebab lisan santri mencerminkan akhlaknya.”
Dalam keadaan seperti itu, santri menunjukkan kesetiaan pada prinsip manhajul adab. Mereka tetap melayani kebutuhan kiai masing-masing tanpa memperlihatkan keberpihakan yang berlebihan. Seorang santri tetap mencium tangan kiai lain meski gurunya berbeda pandangan dengannya. Itulah wujud penghormatan yang bersumber dari warisan akhlak pesantren.
Santri juga memperkuat diri dengan doa. Dalam keheningan malam, ketika pesantren telah sunyi, mereka memanjatkan harapan agar Allah melapangkan hati para ulama. Doa itu lahir dari kesadaran bahwa keharmonisan para kiai adalah cahaya bagi kehidupan santri. Jika kiai rukun, pesantren akan teduh dan ilmu akan mudah meresap di dada.
Di balik sikap tenang itu, santri menyimpan keyakinan bahwa perbedaan di antara kiai adalah rahmat. Mereka melihatnya sebagai teladan bahwa intelektualitas tidak pernah berhenti pada satu jawaban tunggal. Justru perbedaan itulah yang mengajarkan santri untuk berpikir lebih dalam dan tidak mudah terjebak pada fanatisme buta.
Namun, santri juga sangat waspada terhadap pihak luar yang mencoba memanfaatkan momen perbedaan itu. Mereka menjaga diri agar tidak memberikan ruang sedikit pun bagi fitnah atau adu domba. Kesadaran kolektif ini tumbuh dari pengalaman panjang pesantren menghadapi arus opini dan dinamika masyarakat.
Dalam kesehariannya, santri tetap melanjutkan rutinitas mengaji, khidmat, dan menjaga disiplin. Perselisihan kiai tidak membuat mereka lalai dari kewajiban utama: mencari ridha Allah melalui ilmu dan adab. Rutinitas itulah yang membuat suasana pesantren tetap tenang meski angin perbedaan sempat berhembus.
Pada akhirnya, santri percaya bahwa para kiai akan menemukan titik temu dengan kebesaran hati mereka. Pengalaman menunjukkan bahwa ulama selalu kembali pada prinsip persaudaraan dan kasih sayang. Santri hanya perlu menjaga diri agar tidak memperkeruh suasana, sebab tugas mereka bukan memutuskan kemenangan, melainkan menjaga marwah.
Dari semua sikap itu, santri belajar satu pesan penting: adab selalu lebih tinggi daripada ilmu. Ketika kiai berselisih, santrilah yang mengamalkan pesan itu dengan paling nyata. Mereka menjaga lisan, hati, dan kehormatan guru, sembari tetap yakin bahwa perbedaan adalah bagian dari perjalanan menuju kebenaran. Dengan cara itu, pesantren tetap menjadi ruang penuh berkah, tempat adab tumbuh lebih subur daripada konflik.