Kesuksesan
Kesuksesan
Oleh:Zaenuddin Endy
Ketua DPP RHMH Aljunaidiyah Biru Bone
Setiap manusia menginginkan kesuksesan. Ia dikejar, diperjuangkan, dan sering kali diukur dengan harta, kedudukan, dan popularitas. Namun, benarkah kesuksesan hanya sebatas itu. Betapa banyak orang yang telah mencapai segala yang diidamkan dunia, tetapi tetap merasa kosong. Rumah mereka megah, tetapi hatinya gelisah. Nama mereka masyhur, tetapi batinnya tidak tenang.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Taha: 124)
Ayat ini menegaskan bahwa tanpa ketenangan jiwa, kesuksesan lahiriah tidak akan memberi kebahagiaan sejati. Hidup yang sempit bukan hanya soal kekurangan harta, tetapi juga tentang hati yang selalu resah, tak pernah merasa cukup.
Sukses yang sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi tentang merasa cukup dengan apa yang ada. Ia bukan tentang menjadi yang paling berkuasa, tetapi tentang memiliki hati yang lapang dan bersyukur. Dalam kesederhanaan, seseorang bisa merasakan ketenangan yang lebih bernilai dibandingkan kemewahan dunia yang fana.
Rasulullah , manusia paling mulia, hidup dalam kesederhanaan. Beliau tidak memiliki istana megah atau harta melimpah, tetapi ketenangan jiwa dan kedekatannya dengan Allah membuatnya manusia paling sukses sepanjang sejarah. Beliau bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari & Muslim)
Betapa banyak orang yang tidur di ranjang empuk, tetapi hatinya penuh kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang beralas tikar sederhana, tetapi tidurnya lelap karena hatinya tenang. Ketenangan itulah yang menjadi ukuran kesuksesan sejati.
Kesuksesan sejati adalah saat seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain, tidak iri dengan keberhasilan orang lain, dan tidak terbebani oleh pandangan manusia. Ia fokus pada usahanya sendiri, berserah diri kepada Allah, dan menikmati setiap proses hidup dengan penuh kesyukuran.
Orang yang sukses adalah mereka yang menjalani hidup dengan hati yang ridha. Mereka yang mengerti bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, dan kebahagiaan sejati bukanlah pada harta atau jabatan, tetapi pada ketenangan jiwa.
Mungkin tidak memiliki pangkat tinggi, tidak dikenal banyak orang, dan tidak bergelimang harta. Tetapi jika hati dipenuhi ketenangan, maka telah mencapai kesuksesan yang tidak bisa dibeli oleh uang. Sebab, sukses sejati bukan tentang memiliki banyak hal, tetapi tentang memiliki hati yang penuh kedamaian.
Maka, jangan habiskan hidup hanya untuk mengejar dunia yang sementara. Kejarlah ketenangan hati, karena di sanalah letak kebahagiaan yang hakiki. Dan jika masih ragu, ingatlah—lebih baik tidur nyenyak di rumah sederhana daripada gelisah di istana yang megah.
Kesuksesan bukanlah sekadar pencapaian lahiriah yang tampak di mata manusia, tetapi tentang kebahagiaan yang dirasakan di dalam hati. Banyak orang yang menghabiskan seluruh hidupnya mengejar harta, jabatan, dan pengakuan, namun pada akhirnya justru merasa hampa. Seakan ada sesuatu yang hilang, meskipun semua keinginan duniawi telah mereka genggam.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketenangan bukanlah hasil dari materi atau pencapaian duniawi, tetapi datang dari kedekatan dengan Allah. Mereka yang sukses sejati bukanlah yang paling kaya atau paling berpengaruh, tetapi mereka yang hatinya dipenuhi ketentraman dan rasa cukup.
Sering kali, kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang kita anggap sebagai kesuksesan, tanpa menyadari bahwa ketenangan justru ada dalam kesyukuran. Orang yang selalu merasa cukup dan menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada adalah mereka yang benar-benar telah sukses, meskipun dunia tidak menganggapnya demikian.
Maka, sebelum mengejar dunia, kejarlah ketenangan hati terlebih dahulu. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita miliki yang menentukan kebahagiaan, tetapi seberapa damai hati kita dalam menjalaninya. Lagipula, apa gunanya memiliki segalanya jika akhirnya tetap sulit tidur nyenyak.
Wallahu A’lam Bissawab