Kenangan di Balik Dinding Ma’had Hadis Biru
Ada aroma nostalgia yang tak lekang oleh waktu ketika mengingat Pesantren Ma’had Hadis Biru Watampone, pesantren yang kini dikenal dengan nama Pesantren Modern Aljunaidiyah Bone. Di masa tahun 1986-an dan 1990-an, pesantren itu bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang bagi para santri untuk menemukan jati diri. Mereka hidup dalam kesederhanaan, berdisiplin di bawah bimbingan para ustaz yang tegas namun penuh kasih. Dinding-dinding asrama menjadi saksi perjalanan spiritual dan sosial anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah dengan satu cita: menjadi orang berguna bagi agama dan bangsa.
Pada masa itu, santri hidup dalam keterbatasan, tapi justru dari situlah muncul kreativitas dan keakraban yang sulit ditemukan hari ini. Istilah-istilah khas seperti Mantel (Mandi Telanjang), Tira (Tiga Rantang), Gatlas (Gatal), dan Malladi (memasak keladi menggunakan kaleng bekas, sering kali kaleng biskuit merek Kong Ghuan) menjadi bagian dari kosakata kehidupan santri. “Mantel” menggambarkan cara para santri mandi di sumur umum dengan segala keterbatasan privasi. “Tira” adalah simbol gotong royong dan solidaritas: tiga rantang nasi yang dibagi ramai-ramai di antara sahabat. “Gatlas” bukan sekadar penyakit kulit, tetapi ejekan akrab antar teman yang melekat di ingatan mereka. Sementara “Malladi” mencerminkan kreativitas luar biasa santri: bagaimana rasa lapar dan keterbatasan bisa melahirkan hidangan hangat dari keladi yang dimasak di atas tungku sederhana dengan kaleng bekas.
Suasana pesantren kala itu sederhana namun hangat. Air sumur yang dingin, lampu minyak yang redup, dan bunyi jangkrik di malam hari menjadi latar keseharian. Santri belajar membaca kitab kuning di bawah cahaya temaram, sementara di kejauhan terdengar sayup-sayup suara radio yang menyiarkan sandiwara legendaris seperti Saur Sepuh, Api di Bukit Menoreh, dan Babad Tanah Leluhur. Sinetron radio itu menjadi fenomena tersendiri, membuat banyak santri kebingungan: antara mengikuti pengajian atau menikmati kisah heroik dari dunia imajinasi yang memikat.
Di sela kesibukan menghafal matan dan syarah, santri sering berkumpul di serambi asrama. Beberapa membawa radio kecil dengan volume pelan, agar tidak terdengar ustaz. Begitu azan magrib berkumandang, mereka segera menutup siaran dan berlarian ke masjid. Namun setelah isya, diam-diam radio kembali menyala. Suara Genta Buana Paramita yang khas mengalun di udara, membawa mereka seolah ikut berkelana bersama tokoh-tokoh legendaris. Dari situlah lahir perpaduan unik antara dunia religius dan budaya populer, antara pesantren dan imajinasi publik.
Bagi para santri era 86–90, kehidupan di Ma’had Hadis Biru adalah pelajaran kesabaran dan kemandirian. Tidak ada gawai, tidak ada media sosial, yang ada hanyalah interaksi langsung dan canda tulus antar teman. Mereka belajar tentang arti kebersamaan, bagaimana saling menolong ketika uang kiriman belum datang, atau bagaimana menyiasati lapar dengan nasi dan sambal garam. Bahkan saat malam mulai larut, dapur kecil mereka sering hidup oleh aroma keladi rebus hasil “Malladi”, yang dinikmati bersama di bawah cahaya lampu minyak, diiringi tawa dan cerita masa remaja yang hangat.
Kini, Pesantren Modern Aljunaidiyah Bone berdiri megah dengan bangunan permanen, laboratorium, dan fasilitas modern. Namun, bagi mereka yang pernah hidup di era Ma’had Hadis Biru, kemegahan itu hanyalah lapisan luar. Yang paling abadi justru kenangan tentang malam-malam panjang di asrama, suara ngaji yang bergema di mushala, dan tawa santri di tepi sumur. Mereka adalah generasi yang membentuk karakter dengan kerja keras dan kesabaran, jauh sebelum istilah “santri digital” dikenal.
Sebagian dari mereka kini telah menjadi kiai, guru, birokrat, bahkan pengusaha. Tapi ketika bertemu dan mengenang masa lalu, semua kembali menjadi santri: yang masih bisa tertawa saat menyebut “Mantel”, “Tira”, “Gatlas”, atau “Malladi”. Mereka masih ingat aroma keladi gosong yang menandakan kaleng Kong Ghuan sudah terlalu panas di atas bara, atau kisah lucu teman yang ketahuan membawa radio ke kamar. Cerita-cerita itu menjadi jembatan emosional yang mengikat mereka, membangun rasa memiliki yang tak pernah pudar.
Sinetron radio yang dulu menjadi dilema antara pengajian dan hiburan kini hanya tinggal kenangan. Namun, dalam perspektif sejarah budaya pesantren, fenomena itu menunjukkan bagaimana tradisi Islam dan budaya populer bisa berinteraksi secara harmonis. Pesantren tidak menolak kemajuan, tetapi menempatkannya dalam bingkai nilai-nilai moral dan spiritual. Begitulah Ma’had Hadis Biru menjadi laboratorium kecil yang mengajarkan moderasi bahkan sebelum istilah itu populer.
Ketika nama pesantren berganti menjadi Aljunaidiyah Bone, semangatnya tidak ikut berubah. Ia tetap menjadi tempat di mana ilmu dan keikhlasan berpadu, tempat di mana kenangan sederhana menjadi pelita dalam perjalanan hidup. Di balik nama barunya, masih berdenyut semangat lama: semangat santri yang tangguh, jujur, dan setia pada guru serta nilai-nilai keislaman.
Kenangan tentang Ma’had Hadis Biru bukan sekadar nostalgia masa muda. Ia adalah kisah tentang sebuah generasi yang tumbuh dalam kesahajaan, mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak datang dari kemewahan, melainkan dari keikhlasan menjalani hari-hari penuh perjuangan. Di setiap doa para alumninya, masih terucap satu harapan: semoga pesantren itu tetap menjadi cahaya, menerangi generasi baru yang menapaki jejak spiritual di jalan ilmu dan pengabdian.