Kebijaksanaan Sang Pemimpin
Kebijaksanaan Sang Pemimpin
Puisi: Zaenuddin Endy
Aku telah merasakan pahitnya dunia,
Dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia.
Sebab janji bisa pudar, kata bisa dusta,
Hanya Tuhan yang setia dalam segala.
Jangan kau ucapkan yang tak ingin kau dengar,
Sebab lidah tajam bisa membuat hati mekar atau terluka parah.
Sebuah kata bisa menumbuhkan kasih,
Atau menusuk hingga membekas pedih.
Lidah orang bijak ada di belakang hatinya,
Tapi hati si bodoh di belakang lidahnya.
Jangan kau tajamkan lidah pada ibumu,
Sebab darinyalah kau belajar berbicara dulu.
Kemarahan datang bagai badai menggila,
Diawali gila, diakhiri penyesalan nyata.
Jangan kau buru-buru menghakimi,
Sebab yang diam belum tentu tinggi hati.
Bunga tetap harum meski dirusak,
Begitulah hati yang lapang dan bijak.
Jangan benci meski disakiti,
Jangan pongah meski kau tinggi.
Orang cantik belum tentu baik,
Tapi orang baik selalu bercahaya.
Sebab jiwa yang bersih lebih indah,
Daripada rupa yang semu dan mudah sirna.
Lepaskan sedih yang membebanimu,
Sebab malam gelap menyimpan cahaya yang menunggu.
Dan yakinlah, setelah sabar yang panjang,
Ada sesuatu yang membuatmu lupa akan rasa pedih yang mencekam.
Jangan katakan pada Tuhan,
“Aku punya masalah yang besar!”
Tapi katakan pada masalah,
“Aku punya Tuhan Yang Maha Besar!”
Sebab hidup ini hanya sementara,
Hari ini untukmu, esok bisa melawanmu.
Namun, siapa yang teguh dalam kebenaran,
Takkan gentar meski sepi di jalan perjuangan.
EndyNU