Jurumiyah: Cahaya Pertama

EndyNU
Jurumiyah: Cahaya Pertama

Di balik lembaran yang tampak sederhana,
terpahat ilmu dari zaman lama.
Jurumiyah, nama yang tak pudar,
pijakan awal bagi santri belajar.

Ringkas kata, padat makna,
mengurai nahwu dengan penuh hikmah.
Ash-Shanhaji sang penyusun bijak,
menanam ilmu dalam kalbu yang gelap.

Isim, fi’il, dan huruf dikenalkan,
dengan i’rab yang perlahan dijelaskan.
Setiap bab bagaikan lentera,
menuntun jiwa menuju cahaya.

Di pesantren yang sunyi dan damai,
Jurumiyah dibaca saban pagi.
Dengan makna gandul di setiap baris,
santri merenung, jiwa pun bersih.

Bukan sekadar bahasa dihafal,
tapi latihan berpikir yang mendalam.
Tiap harakat punya makna,
tiap lafaz mengandung logika.

Ia bukan kitab biasa,
tapi pusaka yang mengantarkan cita.
Membuka gerbang kitab-kitab gundul,
mengurai makna dari teks yang utuh.

Wahai santri, genggamlah kuat,
kitab ini adalah awal yang tepat.
Dari sini langkah dimulai,
menuju ilmu yang abadi dan tinggi.

Jurumiyah adalah suluh pertama,
yang menerangi malam buta bahasa.
Tanpa dia, pintu tertutup rapat,
dunia Arab terasa jauh dan berat.

Kini kitab itu masih diajarkan,
di madrasah, halaqah, dan pesantren.
Menjadi warisan tak tergantikan,
dalam tradisi ilmu yang menyejukkan.

Meski zaman terus berubah rupa,
Jurumiyah tetap hidup di dada.
Menjadi pelita di tengah gelap,
bahasa al-Qur’an tak lagi samar.

Wahai pencari ilmu sejati,
mulailah dari kitab yang suci.
Jurumiyah mengajarkan rendah hati,
bahwa awal kecil bisa jadi tinggi.