Jembatan Cahaya al-Maraghi
Jembatan Cahaya al-Maraghi
Di tepi Nil, di riuh zaman,
Marāghī menulis dengan pena harapan.
Ayat-ayat langit diracik rasional,
Riwayat salaf berpadu sorot modern.
Bahasanya jernih bak embun subuh,
Mengalir tenang untuk hati yang butuh.
Mazhab empat bersua maslahat masa,
Bank, kontrak, dan kerja dibahas tanpa gusar.
Setiap surah disambut muqaddimah ringkas,
Seperti peta menuju taman luas.
Balaghah, i‘rab, dan syair berseri,
Memoles makna bagai permata bersendi.
Ayat kosmos ia bentangkan luas,
Big Bang, galaksi, rahasia cakerawala keras.
Kritik pun lahir—ilmu bisa berganti,
Namun dialog Qur’an-sains tetap lestari.
Ia tegakkan keadilan di tanah terjajah,
Mengecam feodalisme dan tiran yang pongah.
“Bangkitlah lewat ilmu, kerja, dan iman,”
Serunya—seperti sang muadzin zaman.
Tazkiyat an-nafs ia sulam di dada,
Cara menunduk ego, menyirami empati sesama.
Majelis taklim pun berseri mengulang,
Pesan praktisnya mengobati gundah yang datang.
Wahai Maraghī, jembatan yang kukuh,
Turāṯ dan modernitas kau pintalkan utuh.
Selagi umat mencari jalan terang,
Cahaya tafsirmu kan terus menjelang.