Jalan Sunyi Syekh Yusuf
Dalam sunyi malam yang tak bernama,
terdengar bisik dzikir yang mengalun lembut,
di hati para salik yang mencari cahaya,
Syekh Yusuf menuntun, tanpa hiruk dan rebut.
Tarekat bukanlah jalan yang mudah,
ia sunyi, ia dalam, ia butuh nyala,
bukan nyala api dunia yang mudah padam,
melainkan nyala ruhani yang abadi selama-lamanya.
Ia ajarkan khalwat bukan sekadar menyepi,
tapi untuk mengenali wajah diri,
agar yang fana tak lagi membelenggu,
dan yang haq menyatu dalam kalbu.
Dalam dzikir sirri yang senyap,
ia tanamkan benih makrifat,
hingga hati yang gelap disiram cahaya,
dan jiwa pun pulang pada Sang Maha.
Ia bukan guru yang duduk di singgasana,
tapi pembimbing di jalan derita,
membuka cakrawala makna dan adab,
membakar ego yang sering menjebak.
Tarekat baginya bukan simbol semata,
tapi jalan jihad yang menghidupkan umat,
menyatu dalam napas perjuangan,
membangun akhlak dan peradaban.
Ia torehkan kalam bukan untuk dipuja,
melainkan agar kita membaca dan merasa,
bahwa yang hakiki tak perlu banyak kata,
cukup hati yang berserah dan percaya.
Dalam maqam-maqam yang menanjak tinggi,
Syekh Yusuf mengajak kita meniti,
dengan sabar, ikhlas, dan ridha,
menempuh jalan yang tak semua berani jalani.
Ia tak ajarkan kita menjadi asing dari dunia,
tapi menjadi cahaya di dalamnya,
agar tiap langkah kita bernilai ibadah,
dan tiap gerak menebar berkah.
Dari Goa hingga Kaapstad yang jauh,
risalahnya menembus ruang dan waktu,
menghidupkan ruh-ruh yang nyaris layu,
menjadi pelita di malam yang kelabu.
Risalah itu bukan hanya naskah suci,
tapi bekal hidup para pencari,
membawa jiwa kepada hakikat diri,
hingga bertemu Dia, Kekasih abadi.