Ikatan Cinta Ruhani

Ikatan Cinta Ruhani

Syair Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari:

Bayniy wa baynakum fil mahabbati nisbatun mastūratun fi sirri hadzal ‘ālam, nahnul ladzūna tahābabat arwāhuna min qabli khalqillāhi thinata ādam.

Antara aku dan kalian semua, ada ikatan cinta, tapi ikatan cinta itu tersembunyi dalam rahasia alam. Kita adalah orang-orang yang jiwa-jiwa kita sudah saling mencinta, sebelum Allah mencipta lempungnya Adam.

Syair digambarkan bahwa antara aku dan kalian, terbentang jalinan yang tidak terlihat oleh mata, tapi nyata dalam rasa yang paling dalam. Ia bukan jalinan darah, bukan pula kontrak duniawi yang tertulis di atas kertas. Ia adalah simpul cinta yang telah lama ditulis di langit sebelum bumi mengenal debu dan waktu mulai berdetak. Ketika Hadratussyekh menulis syair itu, beliau tengah menyingkap rahasia ruhani yang tak semua bisa mengerti, kecuali oleh mereka yang hatinya lembut dan jiwanya bening.

Ikatan cinta itu tidak berasal dari interaksi fisik atau pertemuan kasat mata. Ia adalah pengakuan bahwa jiwa-jiwa yang kini saling mencintai, saling setia dalam perjuangan dan saling menguatkan dalam keimanan, sudah pernah bertemu dan saling menyapa di alam ruh. Sebelum manusia ditiupkan ruhnya, sebelum bumi menerima pijakan pertama, sebelum Adam dicipta dari tanah, cinta itu sudah hadir. Ia bukan cinta biasa, tapi cinta primordial yang mengalir dari rahmat Allah.

Ketika kita berjumpa dan merasakan kedekatan yang tak bisa dijelaskan, barangkali itu adalah gema dari cinta yang lampau, dari perjanjian rahasia yang pernah kita buat di hadapan Sang Khalik. Kita lupa, tapi ruh kita mengenalnya. Ruh kita masih menyimpan ingatan itu, dan kadang ia menampakkan dirinya dalam kehangatan yang tak memiliki sebab, dalam keakraban yang melampaui logika. Inilah cinta yang dimaksud oleh Hadratussyekh, cinta yang suci, murni, dan abadi.

Tak heran bila para santri mencintai kiai mereka dengan sepenuh hati, karena ada benang ruhani yang tak terputus oleh zaman. Ketaatan dan kasih sayang yang mengalir antara murid dan guru bukan semata hasil pendidikan, melainkan pertemuan kembali antara ruh-ruh yang sudah saling mencinta di alam azali. Maka hubungan ini menjadi hubungan yang mendidik bukan hanya akal, tapi juga hati. Ia menjadi jalan untuk menyempurnakan takdir yang telah lama digariskan.

Syair itu menjadi saksi bahwa cinta dalam Islam bukan hanya soal perasaan, tapi juga bagian dari jalan spiritual. Ia mengajarkan bahwa hidup ini bukan kebetulan semata, melainkan rangkaian dari rahasia besar yang terangkai rapi dalam skenario Ilahi. Maka mencintai bukan hanya hakikat insani, tapi juga tanggung jawab ruhani. Kita mencintai karena kita mengingat, meski tak sadar bahwa kita sedang mengingat.

Hadratussyekh menyadarkan kita bahwa persaudaraan dalam Islam bukan sekadar ukhuwah sosial, tapi ukhuwah ruhani. Ruh-ruh yang pernah saling mencinta akan mencari satu sama lain di dunia ini, dalam bentuk persahabatan, persaudaraan, bahkan dalam barisan perjuangan. Maka ketika kita merasa damai dalam kebersamaan, itu karena ruh kita telah kembali ke lingkaran yang dulu pernah menghangatkannya.

Syair itu menjadi semacam kunci untuk memahami bagaimana para ulama, para wali, dan para pejuang Islam begitu setia satu sama lain, meski mereka hidup di zaman yang berbeda. Karena cinta mereka bukan cinta yang lahir dari peristiwa, tapi dari takdir. Ruh yang saling mencinta akan tetap setia bahkan ketika raganya sudah hancur oleh tanah. Itulah mengapa sejarah umat Islam selalu diwarnai dengan kasih sayang, pengorbanan, dan kesetiaan lintas generasi.

Ikatan yang disingkap Hadratussyekh bukan sekadar puisi indah, tapi pernyataan teologis yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa hidup ini adalah kelanjutan dari kehidupan ruh sebelumnya. Dan dalam hidup ini, kita sedang menunaikan janji lama—janji untuk saling mencinta karena Allah, bukan karena dunia. Janji itu yang harus terus dirawat agar tidak pudar oleh kesibukan duniawi dan godaan ego.

Bila kita menatap wajah sahabat dengan penuh cinta, bisa jadi itu adalah cermin dari cinta ruh yang dulu pernah bersatu. Bila kita menangis untuk seseorang yang bahkan belum lama kita kenal, barangkali itu adalah air mata dari ruh yang mengenang perpisahan lama. Semua ini bukan kebetulan, tapi bagian dari skenario cinta yang jauh lebih luas dari kehidupan sekarang.

Syair ini juga menjadi pengingat bahwa cinta yang sejati selalu tersembunyi dalam rahasia. Ia tidak perlu diumbar, tidak perlu dipertontonkan. Cinta ruhani adalah cinta yang diam, tapi kuat. Ia hidup dalam pengorbanan, dalam doa, dalam kesetiaan tanpa pamrih. Itulah cinta yang ditanamkan oleh para ulama kepada umatnya—cinta yang menumbuhkan, bukan yang menuntut.

Di tengah kegaduhan dunia yang penuh tipu daya dan kepentingan, syair ini hadir sebagai peneduh jiwa. Ia mengajak kita kembali kepada asal mula—kepada cinta ruhani yang mendidik kita untuk mengenal hakikat diri, mengenal Allah, dan mengenal sesama sebagai saudara dalam keabadian. Inilah yang membentuk kekuatan Islam sebagai peradaban kasih yang menjangkau seluruh alam.

Dan kini, ketika kita membaca syair itu kembali, marilah kita duduk sejenak dalam hening. Dengarkan gema ruh kita yang memanggil nama-nama yang pernah dicinta. Rasakan getar yang tak bersuara namun nyata. Barangkali, di sanalah kita menemukan kembali siapa diri kita, untuk apa kita hadir, dan ke mana kita menuju. Karena antara aku dan kalian, ada cinta yang melintasi waktu dan takdir, tersembunyi dalam rahasia alam.