Gurutta Abd Latif: Ulama Pengayom dan Penerus Tradisi Islam Bugis

Gurutta Abd Latif adalah salah satu ulama berpengaruh dari tanah Bugis, khususnya di Pinrang, yang dikenang karena keteladanan, ilmu, dan pengabdian yang ia wariskan kepada umat. Sosoknya hadir sebagai pengayom masyarakat sekaligus penerus tradisi keilmuan Islam yang sudah lama berakar di Sulawesi Selatan. Dengan kharisma yang kuat, beliau mampu menempatkan diri sebagai tokoh panutan yang disegani lintas generasi.

Gurutta Abd Latif lahir di Palameang, Mattirosompe, Kabupaten Pinrang pada tahun 1893. Sejak kecil, ia tumbuh dalam suasana religius yang kental di lingkungan masyarakat Bugis yang sarat dengan tradisi keislaman. Pendidikan awalnya berpusat pada pengajian dasar Al-Qur’an, ilmu fikih, dan tata cara ibadah. Kecintaannya terhadap ilmu mendorongnya untuk berguru kepada sejumlah ulama besar di sekitarnya. Proses belajar ini membentuk dasar keilmuan yang kemudian berkembang lebih luas ketika ia berkesempatan menimba ilmu langsung di tanah suci Mekkah.

Pengalaman intelektual di Mekkah menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Di sana, ia mendalami kitab-kitab klasik dan memperluas wawasan keislamannya. Tradisi sanad keilmuan yang diperoleh dari ulama-ulama Haramain ia bawa pulang ke tanah Bugis. Hal ini menjadikan Gurutta Abd Latif bagian dari rantai transmisi ilmu Islam internasional yang menyambungkan ulama Nusantara dengan pusat peradaban Islam. Baginya, ilmu sejati adalah yang mendekatkan manusia kepada Allah sekaligus bermanfaat bagi sesama.

Dalam aktivitas dakwahnya, Gurutta Abd Latif lebih banyak menggunakan pendekatan persuasif dan santun. Ia meyakini bahwa masyarakat akan menerima ajaran Islam dengan lapang hati apabila disampaikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Dakwahnya tidak bersifat menggurui, melainkan mengajak dengan penuh kelembutan. Hal ini membuat pesan-pesannya meresap dalam kehidupan masyarakat dan membentuk pola keberagamaan yang penuh kedamaian.

Kesederhanaan Gurutta Abd Latif tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Ia menolak kemewahan dan lebih memilih hidup bersahaja bersama masyarakat. Sikap ini tidak hanya memperkuat wibawanya, tetapi juga menegaskan bahwa seorang ulama harus menjadi teladan dalam perilaku, bukan hanya dalam kata-kata. Sifat tawadhu inilah yang membuat masyarakat semakin menaruh hormat kepadanya.

Selain sebagai pendidik, Gurutta Abd Latif juga dikenal sebagai mediator dalam masyarakat. Ketika terjadi konflik, baik yang bersifat keluarga maupun sosial, ia sering dimintai pandangan untuk memberikan jalan keluar. Pendekatan bijaksana yang ia gunakan menjadikan dirinya dipercaya sebagai penengah yang adil. Dengan demikian, perannya melampaui dunia pendidikan agama dan merambah ke ranah sosial budaya.

Dalam pengajarannya, Gurutta Abd Latif menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan amal. Ia mengingatkan murid-muridnya agar tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada praktik nyata dalam kehidupan. Ia juga sering menekankan nilai kebersamaan dan tolong-menolong, yang sejalan dengan budaya Bugis tentang siri’ na pacce. Dengan begitu, dakwahnya berakar kuat pada realitas sosial setempat.

Salah satu murid pentingnya yang kemudian menjadi ulama besar Sulawesi Selatan adalah Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Melalui bimbingan Gurutta Abd Latif, KH. Ambo Dalle tumbuh menjadi ulama kharismatik yang kelak mendirikan Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) dan berperan besar dalam pendidikan Islam di kawasan timur Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kiprah Gurutta Abd Latif tidak berhenti pada lingkup pribadi, melainkan berlanjut dalam bentuk kaderisasi ulama yang pengaruhnya melampaui generasi.

Gurutta Abd Latif juga berhasil mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya lokal. Ia tidak menolak tradisi Bugis, tetapi justru merangkulnya sebagai medium dakwah. Dengan pendekatan ini, Islam diterima sebagai bagian dari identitas masyarakat, bukan sebagai sesuatu yang asing. Hal tersebut menjadi faktor penting yang membuat dakwahnya begitu diterima luas oleh masyarakat Pinrang.

Kehadirannya sebagai ulama memberi dampak besar dalam memperkuat religiositas masyarakat. Melalui khutbah, pengajian, dan bimbingan sehari-hari, ia membentuk pola pikir keagamaan yang moderat dan bijaksana. Dengan demikian, ia bukan hanya seorang guru, tetapi juga pembentuk arah kehidupan sosial masyarakat.

Di lingkup keluarga, Gurutta Abd Latif juga dikenal sebagai ayah dan kakek yang penuh kasih sayang. Ia berhasil menanamkan nilai-nilai religius kepada anak cucunya, sehingga banyak di antaranya yang meneruskan kiprah dakwah dan pendidikan Islam. Hal ini menegaskan bahwa warisan yang ia tinggalkan tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga bersifat generasional.

Meskipun tidak banyak dokumen tertulis yang memuat kisah hidupnya, narasi lisan yang diwariskan masyarakat cukup untuk menunjukkan besarnya pengaruh Gurutta Abd Latif. Cerita tentang kesederhanaan, kebijaksanaan, dan keteladanannya menjadi bagian dari memori kolektif yang terus hidup di tengah masyarakat Bugis.

Dalam kerangka Islam Nusantara, sosok Gurutta Abd Latif menjadi representasi ulama lokal yang mampu menjaga tradisi sekaligus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia menunjukkan bahwa ulama memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni antara agama dan budaya. Dengan keteguhan iman dan sikap moderat, ia mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi masyarakat sekitarnya.

Gurutta Abd Latif wafat pada tahun 1973. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Pinrang dan Sulawesi Selatan secara umum. Namun, warisan yang ia tinggalkan tetap hidup melalui murid-murid, keluarga, dan masyarakat yang terus mengingat jasa-jasanya. Kesederhanaannya, keteguhan iman, serta kontribusinya dalam pendidikan dan perdamaian sosial menjadikannya figur teladan sepanjang masa.

Dengan demikian, Gurutta Abd Latif layak dikenang sebagai ulama besar Pinrang yang berperan penting dalam sejarah keagamaan lokal. Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya berupa ilmu, tetapi juga keteladanan hidup yang akan terus relevan untuk generasi mendatang.