Cahaya Dua Jalal dalam Tafsir

EndyNU

Cahaya Dua Jalal dalam Tafsir

Dari dua Jalal bersinar cahaya,
Tafsir al-Jalalain penuntun jiwa.
Ringkas kalimat, dalam makna,
Membuka hijab ayat samawi yang mulia.

Jalaluddin Mahalli mengukir awal,
Menjelajahi ayat dari Fatihah hingga akhir kal.
Lalu Suyuthi melanjutkan kisah,
Menjahit makna tanpa lelah.

Tiada hiasan panjang berbelit,
Namun tiap kata bermakna begitu legit.
Nahwu dan sharaf menjadi pelita,
Membimbing santri memahami makna.

Di pesantren sunyi kitab ini bersuara,
Dalam langit-langit malam yang tak bersela.
Santri membacanya dengan penuh cinta,
Seakan mendengar sabda Sang Nabi yang nyata.

Ia bukan hanya buku biasa,
Namun warisan luhur yang tak ternoda.
Dari Mesir ke Nusantara melangkah gagah,
Menjadi teman dalam setiap langkah ibadah.

Ayat demi ayat dijabarkan tenang,
Tanpa gaduh, tanpa silang.
Namun makna dalamnya membakar terang,
Hati pembaca pun menjadi lapang.

Di antara kitab tafsir yang luas terbentang,
Jalalain ibarat sungai tenang.
Mengalirkan ilmu dalam bahasa lapang,
Menyejukkan sanubari yang haus terang.

Syahdu dalam madrasah dan pesantren,
Dibaca bersama dalam suasana hening.
Menggugah rindu pada Kalam Tuhan,
Mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah pelukan.

Tak peduli zaman berubah rupa,
Kitab ini tetap jadi cahaya.
Dari santri kecil hingga ulama tua,
Tafsir ini tetap jadi pusaka.

Wahai pembaca yang haus petunjuk,
Genggamlah kitab ini sebagai peluk.
Dalam ringkasnya terhampar jalur,
Menuju makna yang hakiki dan luhur.

Tafsir al-Jalalain, cahaya abadi,
Penuntun zaman dari hati ke hati.
Dua Jalal yang tak pernah mati,
Namamu harum di langit ilahi.