Cahaya dari Mau’idhotul Mukminin

Cahaya dari Mau’idhotul Mukminin

Oleh:Zaenuddin Endy

Di antara lembaran sunyi dan doa,
lahir nasihat dari jiwa mulia.
Al-Ghazali menulis dengan cinta,
bagi hati yang lelah dan terluka.

Bukan kisah gemerlap dunia,
melainkan cahaya menuju surga.
Dalam Mau’idhotul Mukminin yang agung,
terpahat hikmah dalam lafaz nan teduh.

Ia bicara tentang niat yang tulus,
amal kecil yang jadi mulus.
Bukan rupa yang jadi ukuran,
tapi keikhlasan dalam pengabdian.

Tentang hati yang harus dijaga,
dari ujub, riya’, dan segala durja.
Iman bukan hiasan lisan,
tapi sinar dalam perbuatan harian.

Al-Ghazali mengajarkan muhasabah,
menyeka debu dunia yang megah.
Menggugah ruh yang lelap dalam tanya,
“Sudahkah aku dekat dengan-Nya?”

Ia ajak kita mendidik jiwa,
agar ilmu jadi cahaya, bukan fatamorgana.
Agar dunia tak jadi penjara,
melainkan ladang menuju surga.

Ia seru damai dalam sesama,
jaga lisan, eratkan ukhuwah bersama.
Tak ada hak yang diremehkan,
karena semua ciptaan Tuhan.

Nasihatnya melintasi zaman,
menyentuh hati di setiap kesempatan.
Meski berabad telah berlalu,
hikmahnya tetap baru dan syahdu.

Di pesantren dan musholla sepi,
kitab ini mengalir seperti sunyi.
Mengisi ruh para santri bersujud,
menuntun mereka menuju yang wujud.

Al-Ghazali tak hanya menulis kata,
tapi mengukir cinta dalam setiap makna.
Ia ingin kita kembali pulang,
pada Tuhan dengan hati tenang.

Wahai jiwa yang haus bimbingan,
bukalah lembar Mau’idhotul Mukminin dengan harapan.
Di sana ada pelita dan jalan,
menuju rahmat dan ampunan Tuhan.