Bidayatul Hidayah: Cahaya di Langkah Pertama
EndyNU
Bidayatul Hidayah: Cahaya di Langkah Pertama
Dalam lembar sunyi nan penuh makna,
tersirat nasihat dari sang ulama.
Imam Al-Ghazali, cahaya zaman,
membimbing jiwa menuju Tuhan.
Bidayatul Hidayah, permulaan suci,
bagi hati yang ingin bersih dan murni.
Ilmu dan amal ia satukan,
agar hidup tak sekadar perjalanan.
Ia ajarkan niat yang lurus nan dalam,
bukan demi pujian atau kedudukan malam.
Tapi hanya demi wajah Ilahi,
penghapus gelap dalam diri.
Bangun pagi bukan hanya rutinitas,
tapi awal ibadah penuh ikhlas.
Dari wudhu hingga salam penutup,
semua disusun dalam petunjuk yang utuh.
Ia peringatkan tentang lisan yang tajam,
ghibah, hasad, riya’ yang menghancurkan dalam diam.
Jagalah hati, wahai pencari kebenaran,
karena di sanalah letak kemuliaan.
Adab terhadap guru jadi pelita,
rendah hati, penuh hormat tanpa cela.
Santri diajarkan bukan hanya membaca,
tapi meneladani hingga jiwa bersahaja.
Dunia tak dilarang untuk dimiliki,
tapi jangan biarkan ia menguasai hati.
Zuhud, sabar, dan syukur yang nyata,
itulah benteng bagi yang setia.
Ia bicara lembut bagai ayah,
menuntun anaknya menuju arah.
Bukan menggurui dalam kata tinggi,
tapi memeluk jiwa yang sedang mencari.
Perjalanan ini bukan satu malam,
tapi langkah-langkah dengan istiqamah dalam.
Bidayatul Hidayah adalah kompas jiwa,
menuju ridha dan cinta-Nya semata.
Pesantren menjadikannya kitab permulaan,
agar akhlak tumbuh bersamaan dengan kefasihan.
Maka santri bukan hanya hafal kitab,
tapi hidup dalam akhlak yang mantap.
Wahai pembaca, hayati isinya,
bukan hanya baca, tapi jalani maknanya.
Karena hidayah dimulai dari kehendak,
yang dibimbing oleh ilmu dan adab yang bijak.
Bersinarlah, wahai hati yang gelap,
temukan jalan di lorong yang pengap.
Bidayatul Hidayah adalah awal terang,
menuju cinta Tuhan yang tak pernah hilang.