Anugerah yang Tak Pernah Dikejar
EndyNU
Samata, 14/01/26
Semakin aku mengejar, ia menjauh,
seperti bayang di ujung senja
yang lari ketika kakiku berlari,
diam ketika aku berhenti berharap.
Semakin kupelajari, semakin kabur wajahnya,
ia bukan rumus yang patuh pada logika,
bukan peta yang tunduk pada garis dan arah,
melainkan rahasia yang menolak ditelanjangi akal.
Kitab-kitab kubuka satu per satu,
pena kucelupkan pada makna yang dalam,
namun di tiap simpulan, selalu ada celah
yang membuatku sadar: tidak semua terang bisa dipahami.
Aku bertanya, mengapa jalan ini berliku,
padahal niatku lurus dan langkahku panjang,
namun jawabannya selalu tiba sebagai bisik,
bukan sebagai kemenangan pikiran.
Di situlah aku belajar untuk berhenti mengejar,
menurunkan ambisi yang terlalu percaya diri,
sebab cahaya ini bukan trofi bagi usaha,
melainkan hadiah bagi hati yang berserah.
Hidayah tidak datang karena dikejar,
ia datang ketika dikejar dilepaskan,
saat dada dikosongkan dari klaim kebenaran,
dan jiwa rela menjadi tamu yang menunggu.
Ia anugerah, bukan hasil perburuan, titipan langit yang memilih sendiri singgahnya, dan manusia, dalam segala belajarnya,
hanya diminta rendah: siap menerima, bukan memaksa.