Allah Esa dan Tidak Memiliki Sekutu Dalam Rububiyah-Nya

(Saduran Tulisan: Said Nursi)

Oleh: Dr. Muslihin Sultan, S. Ag., M. ag

*Frasa Kedua: (وَحْدَهُ)*

Frasa ini memberikan harapan dan kabar gembira sebagai berikut: Jiwa dan kalbu manusia yang tertekan, bahkan tenggelam hingga sulit bernafas karena terikat kuat dengan sebagian besar entitas, pada frasa di atas menemukan jalan keluar yang aman yang bisa menyelamatkannya dari sejumlah kebinasaan. Dengan kata lain, frasa وَحْدَهُ menegaskan bahwa: Allah Mahaesa. Karena itu, jangan kau penatkan dirimu wahai manusia dengan terus-menerus merujuk kepada makhluk. Jangan merendah kepada mereka sehingga tertawan oleh jasa dan perilaku buruk mereka. Jangan kau tundukkan kepala di hadapan mereka dan mencari muka pada mereka. Jangan membebani dirimu sehingga engkau bergantung pada mereka. Serta jangan takut kepada mereka. Pasalnya, Penguasa alam adalah satu. Di tangan-Nya tergenggam kunci segala sesuatu. Di tangan-Nya terdapat kendali atas segala sesuatu. Seluruh ikatan bisa lepas dengan perintah-Nya. Semua kesulitan bisa lenyap dengan izin-Nya. Jika engkau “menemukan-Nya”, maka engkau berkuasa atas segala sesuatu, bisa meraih apa yang kau inginkan, selamat dari segala beban jasa, serta bebas dari tawanan ketakutan.

*Frasa Ketiga: (لَا شَر۪يكَ لَهُ)*

Yakni, sebagaimana tidak ada sekutu dalam uluhiyah-Nya karena Allah Mahaesa. Rububiyah, tindakan, dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu juga bersih dari sekutu. Berbeda dengan para penguasa di muka bumi. Bisa jadi ada penguasa yang tunggal dalam kekuasaannya. Hanya saja, tidak satu dan sendirian dalam bertindak. Sebab, para pegawai dan pembantunya terhitung sebagai sekutu baginya dalam menjalankan berbagai urusan. Bahkan, mereka bisa menjadi hijab antara rakyat dan penguasa. Rakyat bisa merujuk kepada mereka terlebih dulu. Namun, Allah SWT sebagai Penguasa azali dan abadi Mahaesa; tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya. Dia sama sekali tidak membutuhkan keberadaan sekutu dan pembantu dalam prosedur rububiyah-Nya. Sebab, sesuatu tidak berpengaruh apaapa tanpa izin dan kekuatan dari-Nya. Semua bisa langsung merujuk kepada-Nya tanpa perlu perantara karena tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya.

Karenanya, tidak ada ungkapan, “Engkau tidak boleh masuk ke hadapan ilahi.” Begitulah, frasa di atas mengandung harapan dan kabar gembira yang mencerahkan. Seolah ia menegaskan: Manusia yang jiwanya tersinari oleh cahaya iman dapat mengemukakan seluruh kebutuhannya tanpa ada penghalang di hadapan Sang Mahaindah yang Mahaagung, Sang Mahakuasa Yang Maha Sempurna. Ia dapat meminta sesuatu yang bisa mewujudkan keinginannya di mana dan kapan saja ia berada. Ia bisa mengungkap hajat dan seluruh kebutuhannya di hadapan Sang Mahakasih yang memiliki khazanah rahmat yang luas de ngan bersandar pada kekuatan-Nya yang mutlak. Dengan begitu, ia menjadi sangat gembira dan bahagia.

Said Nursi, *Iman Kunci Kesempurnaan*, hlm. 55-57