Agama Seruan Bukan Penyesatan

Agama Seruan Bukan Penyesatan

Oleh:Zaenuddin Endy

Ketua Harian DPP Ikatan Alumni Pesantren Modern (IKAPM) Aljunaidiyah Bone

Agama adalah seruan ilahi yang diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk hidup yang lurus dan terarah. Ia bukan sekadar seperangkat aturan, tetapi merupakan ajakan penuh cinta dan kasih untuk menapaki jalan kebenaran menuju ridha Allah. Dalam sejarah kerasulan, kita melihat bahwa seluruh nabi diutus untuk menyeru, bukan untuk memaksa atau menyalahkan. Seruan itu ditujukan agar manusia mengenal Tuhannya, mengesakan-Nya, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan yang luhur. Sebagaimana firman Allahh:

ادْعُ إِلِىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Namun sayangnya, dalam praktik kehidupan beragama, terkadang muncul sikap yang menyimpang dari semangat seruan tersebut. Alih-alih mengajak, sebagian pihak justru terjebak dalam semangat menyalahkan bahkan menyesatkan saudara seiman yang memiliki pemahaman berbeda. Padahal, prinsip dasar dalam beragama adalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan saling menghakimi. Menyesatkan orang lain tanpa proses dialog dan pencerahan sejatinya bertentangan dengan nilai-nilai utama ajaran agama itu sendiri.

Ketauhidan adalah inti dari seluruh ajaran agama, namun pemahamannya tidak selalu seragam karena dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman spiritual, dan tingkat pemahaman seseorang. Oleh karena itu, dalam persoalan ketauhidan, seyogianya kita lebih mengedepankan pendekatan dialog dan pencerahan, bukan vonis yang mematikan ruang pertumbuhan iman seseorang. Sebab, hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah perkara yang sangat pribadi dan sakral.

Apabila ditemukan adanya penyimpangan dari ajaran yang murni, maka sikap yang ideal adalah memberikan edukasi dan pencerahan yang santun. Memberi jalan keluar, bukan menutup pintu hidayah dengan stigma sesat. Dalam banyak kasus, ajaran yang keliru muncul bukan karena niat menyesatkan, tetapi karena ketiadaan bimbingan spiritual dan minimnya sentuhan dakwah yang menyentuh hati. Maka, hadirnya ulama dan pendakwah sebagai pewaris nabi harus membawa misi seruan, bukan hukuman.

Allah SWT tidak pernah menyuruh hamba-Nya untuk menyesatkan yang lain. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan.

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 21–22).

Ini mempertegas bahwa dakwah dan seruan ke jalan Tuhan harus dilakukan dengan penuh kesabaran, bukan dengan paksaan atau penghakiman.

Kesalahan dalam beragama bisa jadi disebabkan karena lemahnya pendidikan agama yang diperoleh sejak dini. Banyak masyarakat yang tumbuh tanpa fondasi keagamaan yang kuat, sehingga rentan menerima ajaran-ajaran yang tidak tepat. Hal inilah yang menuntut para pendakwah untuk hadir membawa pemahaman yang jernih dan menyentuh sisi rohaniah umat, bukan malah memperkeruh suasana dengan menuding tanpa dasar.

Perbedaan pemahaman dalam agama bukan berarti perbedaan dalam ketulusan iman. Seseorang bisa jadi belum sampai pada satu titik pemahaman tertentu, tetapi ia tetap beriman dan mencintai Tuhannya dengan cara yang ia ketahui. Maka, penting untuk memberikan ruang kepada setiap individu untuk bertumbuh dalam keyakinan, tanpa tekanan atau penghakiman. Karena agama adalah cahaya yang menyinari, bukan bara yang membakar.

Kita harus mampu membedakan antara dakwah dan doktrinasi yang memaksa. Dakwah adalah proses mengajak, memberikan keteladanan, dan menunjukkan keindahan agama. Sedangkan menyesatkan adalah menutup pintu bagi seseorang untuk kembali, dan ini bukanlah ajaran yang diajarkan oleh para nabi. Seruan ke jalan Tuhan harus dibarengi dengan kasih sayang, karena kasih adalah bahasa universal yang mampu menembus batas perbedaan.

Tugas kita sebagai sesama umat beragama adalah saling mengingatkan dengan cara yang baik, bukan saling menjatuhkan. Ketika seseorang salah dalam memahami ajaran, itu adalah peluang untuk mengajaknya berdialog, bukan mengucilkannya. Dengan pendekatan yang lembut dan pemahaman yang mendalam, akan lebih mudah menyentuh hati dan mengarahkan mereka ke jalan yang benar.

Agama adalah tentang menanamkan rasa takut kepada Tuhan, bukan kepada sesama manusia. Ketika seseorang merasa takut dihakimi oleh manusia karena pemahamannya, maka agama telah kehilangan ruhnya. Yang seharusnya terjadi adalah setiap orang merasa damai dan tenteram ketika mendekat kepada Tuhannya, melalui bimbingan yang diberikan oleh sesama umat beragama.

Kita harus terus membangun budaya dakwah yang mencerdaskan, bukan menghakimi. Karena dalam dunia yang terus berubah ini, umat memerlukan pencerahan spiritual, bukan labelisasi sesat yang menghalangi cahaya hidayah. Mari jadikan agama sebagai jembatan menuju Tuhan, bukan tembok yang memisahkan umat manusia.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa agama adalah seruan mulia, bukan alat untuk menyesatkan. Ia datang membawa pesan damai, bukan caci maki. Ia mengajak, bukan mengusir. Maka, marilah kita jaga kemurnian seruan agama dengan sikap bijak, santun, dan penuh kasih. Agar cahaya kebenaran tetap bersinar di tengah umat manusia, menuntun setiap hati menuju ridha Ilahi.

Wallahu A’lam Bissawab