Ketika Cahaya Tidak Bisa Dipaksa

 

Oleh: Zaenuddin Endy
Koordinator LTN JATMAN Sulawesi Selatan

Ada sesuatu yang aneh dalam perjalanan manusia mencari cahaya. Semakin ia dikejar, semakin terasa menjauh. Semakin ingin digenggam, semakin licin ia melepaskan diri. Di titik inilah manusia sering kelelahan, sebab ia mengira semua hal dapat ditaklukkan oleh usaha, padahal ada wilayah yang sejak awal tidak tunduk pada ambisi.

Manusia dibekali akal untuk mencari, memahami, dan menalar. Namun akal memiliki batas yang tegas, meskipun sering kali batas itu diabaikan. Dalam urusan hidayah, akal justru sering tersesat ketika merasa paling tahu dan paling berhak sampai lebih dulu.

Banyak orang belajar agama dengan tekun, membaca kitab demi kitab, mengikuti majelis demi majelis. Namun tidak sedikit yang justru semakin bingung, semakin ragu, dan semakin merasa jauh. Bukan karena ilmunya salah, tetapi karena harapannya terlalu memaksa.

Semakin dipelajari, semakin tidak jelas, sebab hidayah bukan hasil kumulatif pengetahuan. Ia bukan gelar akademik yang bisa diraih dengan ketekunan metodologis semata. Ia juga bukan piala yang menunggu di garis akhir perlombaan intelektual.

Di sinilah letak kegagalan banyak pencari. Mereka ingin memastikan cahaya hadir sesuai jadwal dan logika mereka. Padahal cahaya itu datang dengan caranya sendiri, pada waktu yang tidak selalu dapat ditebak.

Hidayah bukan perkara kecerdasan, sebab terlalu banyak orang cerdas justru tersandung di hadapannya. Ia juga bukan soal kesalehan lahir semata, karena tidak sedikit yang tampak taat tetapi hatinya gersang. Hidayah bekerja di wilayah yang lebih sunyi dan dalam.

Ketika seseorang mengejar dengan nafsu kepemilikan, hidayah menjauh sebagai bentuk pendidikan batin. Ia seolah berkata bahwa yang sombong pada usaha akan disadarkan lewat jarak. Semakin dipaksa, semakin ia menghilang dari pandangan.

Manusia sering lupa bahwa yang dikejar itu bukan objek mati. Ia adalah anugerah hidup yang punya kehendak Ilahi. Maka pendekatan yang kasar, tergesa, dan penuh klaim hanya akan membuat jarak semakin lebar.

Belajar agama sejatinya adalah latihan kerendahan hati. Bukan untuk memastikan diri paling benar, melainkan untuk menyadari betapa luasnya kebenaran. Ketika belajar dipakai untuk membangun menara ego, hidayah memilih berlalu.

Ada paradoks yang indah dalam perjalanan ini. Justru ketika seseorang berhenti mengejar dengan ambisi, saat itulah jalan mulai terbuka. Ketika rasa ingin menguasai dilepas, hati menjadi ruang yang lapang.

Hidayah menyukai hati yang kosong dari kesombongan. Ia betah tinggal di jiwa yang mengaku lemah dan terbatas. Sebab di sanalah doa menjadi jujur, dan pengharapan menjadi murni.

Semakin seseorang merasa telah sampai, semakin jauh ia sebenarnya. Sebaliknya, semakin ia merasa belum apa-apa, semakin dekat kemungkinan cahaya menyapanya. Ini bukan logika dunia, tetapi logika anugerah.

Banyak kisah menunjukkan bahwa perubahan besar justru lahir dari keheningan, bukan dari debat panjang. Dari air mata sunyi, bukan dari argumen gemilang. Dari kepasrahan, bukan dari keangkuhan intelektual.

Hidayah tidak hadir karena manusia merasa layak. Ia hadir karena Allah berkehendak. Di titik ini, manusia tidak diperintahkan untuk berhenti berusaha, tetapi untuk meluruskan niat dalam berusaha.
Usaha tetap penting, belajar tetap wajib, tetapi keduanya harus berjalan bersama kesadaran bahwa hasil bukan hak. Yang dituntut dari manusia hanyalah ikhtiar yang jujur, bukan kepastian hasil.

Ketika pencarian berubah menjadi penghambaan, arah perjalanan pun berubah. Bukan lagi mengejar cahaya, tetapi berjalan dalam gelap sambil percaya bahwa cahaya akan datang sendiri pada waktunya.

Di situlah ketenangan mulai tumbuh. Tidak lagi gelisah karena belum paham segalanya. Tidak lagi marah karena belum sampai ke mana-mana. Sebab ia tahu, tugasnya bukan memiliki hidayah, melainkan mengetuk pintu denganmemaksan

Pada akhirnya, hidayah memang tidak pernah bisa ditangkap dengan tangan yang menggenggam. Ia hanya singgah di hati yang terbuka. Ia adalah anugerah, dan anugerah selalu datang kepada mereka yang siap menerima, bukan memaksa.