Cermin yang Retak di Lorong Dunia

Di lorong dunia, manusia berjalan tergesa,

mengeja cahaya dari kilau yang memantul sementara.

Mereka menyebutnya kebenaran,

padahal hanya bayang-bayang yang jatuh di dinding jiwa.

Al-Ghazali pernah berbisik tentang tabir,

yang menutup mata hati dari hakikat.

Bukan karena kebenaran itu jauh,

melainkan karena nafsu berdiri terlalu dekat.

Ada yang terkelabui oleh ilmu tanpa hikmah,

hafal huruf, lupa makna.

Lidahnya fasih mengutip dalil,

namun hatinya tak pernah sujud pada cahaya.

Ada pula yang mabuk ibadah sebagai panggung,

rukuknya panjang, niatnya pendek.

Ia mengira Tuhan berdiam di pujian manusia,

padahal Tuhan bersemayam dalam keikhlasan yang sunyi.

Kata Al-Ghazali, akal bisa menipu dirinya sendiri,

jika tak dibimbing oleh nur dari Yang Maha Benar.

Sebab logika yang sombong

tak lebih dari lentera tanpa minyak sabar.

Orang-orang itu mengira telah sampai,

padahal baru berputar di halaman luar.

Mereka menjaga citra, bukan jiwa,

menghias jasad, melupakan pecahnya batin yang rapuh.

Dunia pun tersenyum, memberi gula pada racun,

membuat yang pahit tampak lezat.

Maka banyak yang rela menjual akhiratnya

demi tepuk tangan yang cepat pudar dan sesaat.

Al-Ghazali menegur dengan bahasa luka yang lembut:

bahwa ketersesatan sering lahir dari rasa paling benar.

Saat ego dijadikan imam,

jalan pun berbelok tanpa sadar.

Wahai mereka yang terkelabui kilau semu,

berhentilah sejenak di depan cermin hati.

Jika yang kau lihat hanya dirimu sendiri,

maka cahaya belum benar-benar menghampiri.

Sebab selamat bukanlah yang paling terlihat,

melainkan yang paling jujur pada Tuhan.

Dan sesat bukan selalu jauh dari masjid,

kadang justru dekat,namun lupa arah pulang.