Membersihkan Dinding Cahaya
EndyNU
Samata, 14/01/26
Diri ini sejatinya suci,
ia dilahirkan bening seperti pagi
yang belum disentuh debu jalanan,
belum disapa asap keinginan.
Yang kotor bukan inti cahaya,
melainkan dinding yang membungkusnya,
lapisan demi lapisan yang mengeras,
berkarat oleh perbuatan sendiri.
Setiap dusta meninggalkan noda,
setiap dengki menebalkan kerak,
setiap abai pada nurani
menambah gelap pada selubung cahaya.
Cahaya itu tidak pernah padam,
ia hanya terpenjara di balik dinding,
menunggu sentuhan kesadaran
yang berani menggosok karat lama.
Maka yang dibersihkan bukan cahaya,
tetapi dinding yang lama dibiarkan,
digosok dengan tobat yang jujur,
disiram dengan sabar dan keikhlasan.
Saat dinding mulai bening kembali,
retak-retak ego perlahan runtuh,
sinar pun keluar tanpa dipaksa,
menerangi langkah dan arah pulang.
Sebab diri ini bukan gelap,
ia hanya tertutup oleh kelalaian,
dan tugas manusia dalam hidup
adalah membersihkan selubungnya
agar cahaya dapat bersinar terang kembali.