Yang Terang Tak Pernah Berisik

 

EndyNU, 13/01/26

 

Ada hal-hal yang sudah selesai

bahkan sebelum kata-kata mencoba bekerja.

Yang terang tak membutuhkan lampu penjelasan,

sebab cahaya yang terlalu diterangkan

sering justru melahirkan bayang-bayang.

Apa yang tampak

belum tentu sungguh terlihat.

Mata kadang sibuk mencatat bentuk,

namun lupa memahami makna.

 

Apa yang didengar

belum tentu benar-benar terdengar,

karena telinga kerap kalah

oleh prasangka dan gema keinginan.

 

Kata yang terucap

bisa tergelincir dari maksudnya,

dan yang terbaca

sering diseret oleh tafsir terburu-buru.

Huruf tidak selalu setia,

ia bisa berkhianat

di tangan pikiran yang tergesa.

 

Maka sekali waktu,

pejamkanlah mata.

Barangkali justru di sana

yang ingin dilihat

menemukan wajah aslinya.

Gelap kadang lebih jujur

daripada terang yang ramai.

 

Tutuplah telinga,

dan dengarkan kesunyian.

Bisa jadi di situlah

suara paling nyaring berbicara,

tanpa teriak, tanpa denting,

namun sampai ke dalam dada.

 

Tutuplah mulut,

biarkan kata istirahat.

Mungkin apa yang ingin dibaca

akan terbaca

di antara jeda napas

dan sunyi yang tak bersuara.

 

Rasakan,

jangan buru-buru menamai.

Sebab bisa saja

garam terasa manis,

bukan karena ia berubah,

melainkan karena lidah

akhirnya belajar jujur

pada rasa.