Di Antara Melawan dan Bersahabat, Aku Memilih Menjalani
Takdir selalu menjadi tema yang tak pernah selesai diperdebatkan, dibincangkan, dan direnungkan. Ia hadir dalam ruang akademik, mimbar keagamaan, hingga percakapan sunyi di sudut kopi. Takdir sering kali diposisikan sebagai sesuatu yang absolut, tetapi pada saat yang sama juga ditantang oleh ikhtiar, nalar, dan keberanian manusia untuk memberi makna pada hidupnya sendiri.
Dalam perjalanan hidup saya, takdir bukan sekadar konsep teologis atau wacana filosofis. Ia menjelma menjadi refleksi personal yang hidup, terutama ketika saya menyimak pemikiran dua sosok yang memiliki tempat khusus dalam lintasan hidup saya: kakak, senior, sekampung, sekaligus suhu yang sama-sama menaruh perhatian serius pada tema takdir.
Sosok pertama adalah Prof. H. Hamdan Juhannis, MA, Rektor UIN Alauddin Makassar yang kini mengemban amanah untuk periode kedua. Dalam berbagai forum intelektual dan refleksi personalnya, beliau menghadirkan satu gagasan yang terasa provokatif sekaligus membebaskan: Melawan Takdir. Sebuah frasa yang bagi sebagian orang bisa terdengar berani, bahkan kontroversial.
Namun, melawan takdir yang beliau maksud bukanlah pembangkangan terhadap kehendak Tuhan. Ia lebih merupakan perlawanan terhadap fatalisme, kemalasan berpikir, dan kepasrahan yang kehilangan tanggung jawab. Takdir, dalam gagasan ini, bukan alasan untuk berhenti berjuang, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan ilmu, etos kerja, dan visi perubahan.
Melawan takdir, dalam perspektif tersebut, adalah keberanian untuk tidak tunduk pada keadaan yang menindas, membatasi, atau memiskinkan martabat manusia. Ia adalah ikhtiar sadar untuk mengubah nasib melalui jalur yang sahih: pendidikan, integritas, dan kerja keras yang berkelanjutan. Di sanalah takdir diposisikan sebagai medan perjuangan, bukan penjara.
Sosok kedua adalah Prof. Dr. Alimin Mesra, M.Ag, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, penulis produktif, sekaligus Instruktur Mumtaz. Beliau hadir dengan gagasan yang terasa lebih lembut namun tak kalah dalam: Bersahabat dengan Takdir. Sebuah pendekatan yang menawarkan kedalaman rasa dan kebijaksanaan batin.
Bersahabat dengan takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ia adalah seni menerima realitas dengan lapang dada, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa setiap peristiwa membawa pesan, hikmah, dan pelajaran. Dalam pandangan ini, takdir bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan teman dialog yang perlu dipahami.
Gagasan tersebut mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dilawan. Ada fase hidup yang menuntut penerimaan, kesabaran, dan keikhlasan. Bersahabat dengan takdir berarti berdamai dengan keterbatasan, kegagalan, dan kehilangan, tanpa kehilangan semangat untuk tumbuh dan belajar.
Dua gagasan ini, jika dicermati secara saksama, sesungguhnya tidak saling bertentangan. Melawan takdir dan bersahabat dengan takdir adalah dua sisi dari kebijaksanaan yang sama. Yang satu menekankan keberanian bertindak, yang lain mengajarkan kedalaman menerima.
Dalam titik tertentu, manusia memang harus melawan: melawan kemiskinan struktural, kebodohan yang dilanggengkan, dan ketidakadilan yang diwariskan. Namun pada titik lain, manusia juga harus belajar bersahabat: dengan kenyataan yang tak bisa diubah, dengan luka yang tak bisa dihapus, dan dengan masa lalu yang tak mungkin diulang.
Saya belajar bahwa takdir bukan garis lurus yang kaku. Ia adalah ruang dinamis antara usaha dan penerimaan, antara keberanian dan kebijaksanaan, antara tekad dan kerendahan hati. Di sanalah manusia diuji, bukan hanya oleh hasil, tetapi oleh cara ia menyikapi proses.
Di hadapan dua gagasan besar tersebut, saya tidak merasa perlu memilih secara ekstrem. Saya tidak sepenuhnya melawan, dan tidak pula sepenuhnya bersahabat. Saya hanya berjalan, melangkah, dan menjalani apa yang terbentang dengan kesadaran yang seadanya.
Menjalani takdir, bagi saya, adalah ikhtiar sunyi yang konsisten. Ia tidak selalu heroik, tidak selalu filosofis, dan tidak selalu tampak gemilang. Namun ia jujur, apa adanya, dan setia pada proses.
Dalam menjalani takdir, saya belajar untuk bekerja ketika harus bekerja, bersabar ketika harus bersabar, dan berhenti sejenak ketika lelah. Tidak semua hal harus dipahami sekaligus, dan tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini.
Jika melawan takdir adalah keberanian, dan bersahabat dengan takdir adalah kebijaksanaan, maka menjalani takdir adalah kerendahan hati. Ia mengakui bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa, tetapi juga tidak sepenuhnya tak berdaya.
Akhirnya, saya percaya bahwa takdir tidak pernah meminta manusia menjadi luar biasa. Ia hanya meminta kita tetap manusia: berpikir, berikhtiar, menerima, dan berjalan. Di antara melawan dan bersahabat, saya memilih setia menjalani.