Tetap Rendah di Jalan Panjang Istiqamah
Istiqamah sering dipahami sebagai keteguhan dalam beribadah, kesungguhan dalam menjaga amal, atau ketahanan dalam menghadapi godaan dunia. Namun ada satu bentuk istiqamah yang jauh lebih halus dan lebih berat daripada sekadar konsistensi lahiriah: menjaga hati agar tidak merasa lebih baik dari orang lain. Inilah ujian yang tak pernah selesai, sebab ia menyentuh sisi terdalam dari diri manusia , ego, kehormatan, dan kebutuhan untuk diakui.
Merasa lebih unggul sering muncul dalam bentuk yang tidak disadari. Kadang ia hadir saat seseorang rajin beribadah, lalu memandang mereka yang tampak kurang taat dengan sudut mata. Kadang ia lahir ketika seseorang merasa intelektual, lalu meremehkan mereka yang dianggap kurang berpendidikan. Bahkan dalam kebaikan sekalipun, bisikan halus untuk merasa lebih mulia bisa merusak seluruh nilai amal itu sendiri. Di titik ini, istiqamah bukan lagi soal fisik, tetapi soal membersihkan ruang batin dari penyakit keakuan.
Hati manusia memang labil. Ia seperti cermin yang mudah berdebu. Sekali saja muncul rasa bangga terhadap amal, maka debu itu mulai menutupi kejernihan jiwa. Karena itu, ulama-ulama terdahulu menekankan bahwa mengawasi hati jauh lebih berat dari menjaga anggota badan. Seseorang bisa terlihat zahid, tekun, dan disiplin dalam ketaatan, tetapi bila ia menganggap dirinya lebih suci dari orang lain, maka seluruh ketekunan itu menjadi rapuh.
Benturan ego paling sering terjadi dalam ruang sosial. Ketika melihat kekurangan orang lain, manusia cenderung lupa bahwa dirinya juga menyimpan cacat, hanya saja tidak terlihat. Di sinilah letak kesalahan besar yang sering jatuh tanpa disadari: menilai diri lebih lurus dibanding orang yang sedang terjatuh. Padahal boleh jadi, seorang pendosa yang menyesali kesalahannya memiliki kedudukan jauh lebih dekat kepada rahmat Tuhan dibanding orang yang tenggelam dalam kesombongan tersembunyi.
Menjaga hati dari perasaan lebih baik adalah persoalan kesadaran spiritual. Ia membutuhkan kejujuran bahwa setiap amal yang dilakukan tidak sepenuhnya karena kemampuan pribadi, tetapi karena pertolongan Tuhan. Bila seseorang menyadari bahwa ketaatan adalah karunia, bukan prestasi, maka ia akan sulit untuk menyombongkan diri di hadapan siapa pun. Kesadaran inilah yang menjaga istiqamah agar tetap jernih.
Istiqamah dalam kerendahan hati juga menuntut seseorang melihat manusia lain dengan kacamata kasih sayang. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya sendiri. Apa yang tampak sebagai kekurangan bisa jadi hanyalah fase yang akan berubah pada waktunya. Sementara apa yang tampak sebagai kelebihan diri bisa berubah menjadi ujian besar bila membuat seseorang terjebak dalam rasa paling benar. Ketika pandangan berubah menjadi pandangan belas kasih, maka hati akan lebih mudah terhindar dari kesombongan.
Rasa lebih baik dari orang lain sering tumbuh dari perbandingan yang tidak sehat. Padahal hidup bukan kompetisi spiritual. Setiap manusia berlari di lintasan masing-masing dengan beban, kemampuan, dan godaan yang berbeda-beda. Karena itu, istiqamah menuntut seseorang untuk fokus pada perbaikan diri, bukan pada kekurangan orang lain. Ketika energi digunakan untuk mengoreksi diri, maka hati akan lebih selamat dari penyakit keangkuhan.
Istiqamah dalam menundukkan ego juga mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada penilaian dirinya sendiri, tetapi pada rahasia yang hanya diketahui Tuhan. Betapa banyak orang sederhana, tersembunyi, dan tidak dianggap, tetapi amalnya lebih murni dan lebih ikhlas dibanding mereka yang mencolok dan banyak bicara. Kesadaran akan ketidaktahuan kita terhadap hakikat diri dan orang lain menjadi pelindung dari pikiran merasa lebih baik.
Ada kalanya seseorang merasa dirinya telah melalui perjalanan spiritual yang panjang, sehingga wajar bila ia merasa sedikit lebih terjaga. Namun justru di titik itu ia harus berhati-hati. Semakin jauh seseorang melangkah dalam jalan ketaatan, semakin besar tanggung jawab untuk menjaga hati tetap merunduk. Seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk, begitulah orang berpengetahuan dan orang beramal: semakin dalam, semakin rendah.
Menjaga hati agar tetap rendah juga merupakan bentuk kepekaan moral. Ia membuat seseorang berhenti menghakimi dan mulai memahami. Ia mencegah seseorang dari mempermalukan, dan mendorong untuk menolong. Sikap ini pada akhirnya membangun hubungan sosial yang lebih sehat, sebab tiada yang lebih menghibur daripada bergaul dengan orang yang tidak memamerkan kebaikan dirinya.
Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah gagal, terjatuh, atau melakukan hal yang disesalinya. Bila seseorang menyadari betapa seringnya Tuhan menutup aibnya, maka ia akan malu bila merasa lebih baik dari orang lain. Rasa malu ini bukan kelemahan, melainkan penjaga hati yang paling kuat untuk mempertahankan istiqamah agar tetap lurus.
Istiqamah dalam merendahkan diri juga berarti tidak tergoda oleh pujian. Pujian adalah ujian halus yang mampu mengubah niat seseorang dalam sekejap. Ketika pujian diterima dengan kesadaran bahwa ia bukan cermin sejati dari diri, maka seseorang akan selamat dari godaan merasa paling. Sebaliknya, bila pujian membuat dada membesar, maka ia telah mengikis nilai istiqamah itu sendiri.
Pada akhirnya, istiqamah yang paling berat bukanlah soal banyaknya ibadah, melainkan bagaimana seseorang mampu menyembunyikan kebaikannya sambil tetap menghargai orang lain. Istiqamah semacam ini membutuhkan latihan seumur hidup, karena musuhnya bukan dunia luar, tetapi bisikan hati yang tidak pernah berhenti. Namun bila seseorang berhasil menjaganya, maka ia akan berjalan di dunia dengan hati yang ringan, jiwa yang bersih, dan pandangan yang penuh welas asih.
Dan ketika seseorang dapat menahan diri untuk tidak merasa lebih baik, di situlah ia sedang menjalani salah satu bentuk ibadah paling mulia. Sebab menjaga hati dari kesombongan bukan hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga menjaga kehormatan orang lain. Istiqamah semacam ini membuat perjalanan ruhani lebih tenang: diam-diam, jujur, dan sepenuhnya bersandar pada Tuhan.