Di Mana Kekuatan Disandarkan
Di medan batin yang sunyi, dua jiwa diuji,
antara yang menggenggam diri dan yang bersandar pada Ilahi.
Satu melangkah dengan keangkuhan kecil yang rapuh,
satu merendah, menautkan lemah pada Yang Maha Kuat dan utuh.
Yang pertama memanggul beban seolah ia raja,
menyeret perangkat, menenteng daya yang serba terbatas adanya.
Ia berhadapan hanya dengan kekuatan sekecil pangkat kopral,
sebab sandarannya hanya diri, yang mudah runtuh, mudah tersesal.
Sementara saudaranya menegakkan hati dengan pasrah,
ia menisbatkan diri pada otoritas yang lebih megah.
Tatkala ia bergabung dalam kekuatan negara,
morilnya menjulang, keberaniannya tak lagi fana.
Ia menghadapi musuh setara jenderal tanpa gentar,
sebab pasukan besar ikut bergerak dalam setiap denyut yang bergetar.
Kemenangan bukan lagi buah upaya yang sendiri,
melainkan anugerah dari hubungan dengan kekuatan yang tak terperi.
Begitulah rahasia sandaran yang sejati,
bukan pada otot diri, melainkan pada tempat yang abadi.
Yang bekerja sendirian menanggung segala beban,
yang bersandar pada raja diberi kekuatan yang diluaskan.
Lantas bagaimana jika sandaran itu adalah Tuhan semesta?
Jika makhluk kecil dinisbatkan pada Dia Yang Maha Perkasa?
Seekor semut dapat meruntuhkan istana kesombongan,
seekor lalat mampu menumbangkan tiran penuh kefasikan.
Bakteri kecil mengantar zalim ke liang kehinaan,
benih mungil tumbuh menjadi gunung kehidupan.
Udara membawa pesan bagi bunga dan buah tanpa salah,
semua patuh pada perintah-Nya, semua berjalan megah.
Inilah kekuatan ketika diri terhubung kepada-Nya;
yang kecil menjadi dahsyat, yang lemah berubah perkasa.
Namun bila tali sandaran dilepas dan dibiarkan lapuk,
maka amal sekecil debu pun terasa berat, menguras seluruh tubuh.
Sebab hanya yang menisbatkan diri kepada Yang Maha Esa
akan menyaksikan: beban menjadi ringan, dan jalan menjadi luas adanya.
EndyNU
Mawang, 23/11/2025