Moderat: Berada di Tengah dan Punya Sikap

Menjadi moderat dalam pandangan Nahdlatul Ulama bukan sekadar berdiri di tengah antara dua kutub ekstrem, tetapi juga memiliki keberpihakan moral dan spiritual yang jelas. Moderasi bukanlah kompromi tanpa arah, melainkan pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan antara teks dan konteks, antara prinsip dan realitas, antara akidah dan kemanusiaan. Dalam kerangka itu, moderasi bagi NU merupakan sikap aktif, bukan posisi pasif. Ia adalah etika berpikir, beragama, dan bertindak yang berakar pada kearifan Ahlussunnah wal Jama’ah.

NU memahami bahwa “tengah” tidak berarti netral tanpa nilai, tetapi berarti proporsional dalam menimbang dan adil dalam menilai. Keseimbangan ini mengandaikan adanya pandangan dunia yang menempatkan agama bukan sebagai alat kepentingan, melainkan sebagai sumber pencerahan. Dalam konteks itu, sikap moderat NU adalah manifestasi dari pandangan keislaman yang inklusif dan kontekstual. Ia hadir untuk menolak dua ekstrem: fanatisme buta di satu sisi, dan relativisme tanpa batas di sisi lain.

Ajaran tawassuth yang dipegang NU melahirkan corak keberagamaan yang menenangkan. Bukan berarti lemah, tetapi kokoh dalam prinsip. Bukan pula berarti ikut arus, tetapi mampu membaca arah dengan bijak. NU tidak menolak perubahan, tetapi juga tidak larut dalam arus modernitas yang menanggalkan nilai. Moderasi ini menjadi benteng moral yang menjaga agar umat tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus ideologi.

Sikap moderat NU tampak jelas dalam caranya menghadapi perbedaan. Bagi NU, perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan yang harus dirawat dengan adab. Dalam ruang sosial maupun keagamaan, NU mengajarkan untuk berdialog tanpa menafikan, dan berdebat tanpa mencaci. Karena itu, moderasi ala NU selalu disertai etika musyawarah, penghormatan terhadap ulama, dan penghargaan terhadap khazanah keilmuan klasik.

Namun, moderat bagi NU bukan berarti tanpa sikap terhadap kemungkaran atau ketidakadilan. Justru di sinilah makna “berada di tengah dan punya sikap” menemukan relevansinya. NU menolak ekstremisme yang mengatasnamakan agama, sekaligus mengkritik liberalisme yang mencabut akar nilai-nilai spiritual. Dalam menghadapi dua kutub ini, NU tetap tegas membela kebenaran, tetapi dengan jalan hikmah dan kelembutan.

Moderasi NU lahir dari keseimbangan antara akal dan wahyu. Akal digunakan untuk memahami wahyu agar tidak terjebak dalam literalisme, sementara wahyu menjadi penuntun akal agar tidak tersesat dalam kebebasan mutlak. Dari keseimbangan inilah muncul tradisi berpikir kritis yang tetap beradab, tradisi intelektual yang berakar di bumi, namun pandangannya menjangkau langit.

NU memaknai moderasi sebagai amanah peradaban. Di tengah polarisasi global yang kian tajam, NU tampil sebagai penengah yang memadukan spiritualitas dengan kemanusiaan. Moderasi ini menjadi kekuatan yang menentramkan, bukan memecah belah. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu keras, dan kelembutan bukan berarti kalah.

Sejarah panjang NU membuktikan bahwa moderasi bukanlah sikap temporer, tetapi prinsip ideologis yang mengakar. Sejak awal berdirinya, NU telah menempatkan diri di garis tengah antara puritanisme skriptural dan sekularisme modern. Para kiai NU memahami bahwa Islam tidak cukup dipahami melalui teks, melainkan juga harus dihidupi melalui konteks sosial yang beragam.

Dalam praksis sosial-politik, NU menunjukkan bahwa moderasi tidak menghalangi keberpihakan terhadap keadilan. Ketika bangsa ini menghadapi ancaman radikalisme, NU tampil sebagai pelindung kebangsaan. Ketika demokrasi disalahgunakan untuk kepentingan segelintir elit, NU mengingatkan pentingnya moralitas dalam kekuasaan. Moderasi NU bukan netralitas politik, tetapi komitmen terhadap nilai kebangsaan dan kemanusiaan.

Sikap moderat NU juga tampak dalam cara memandang umat lain. Islam yang rahmatan lil ‘alamin diterjemahkan sebagai tanggung jawab sosial untuk menjaga harmoni antaragama. NU meyakini bahwa perbedaan keyakinan tidak menghapus persaudaraan kemanusiaan. Maka, menjadi moderat berarti siap berdialog, bersinergi, dan berbuat baik kepada siapa pun tanpa kehilangan jati diri keislaman.

Moderasi ala NU bukan hanya ajaran, tetapi laku hidup. Ia tampak dalam cara santri menghormati guru, dalam cara kiai menasihati dengan santun, dan dalam tradisi tahlilan, maulidan, serta ziarah kubur yang sarat nilai spiritual. Semua itu menunjukkan bahwa moderasi bukan hasil rekayasa wacana, tetapi buah dari pengalaman keberagamaan yang panjang dan mendalam.

Di tengah dunia yang semakin mudah tersulut kebencian, NU memegang teguh semboyan: al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah ( menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik) . Prinsip ini adalah bentuk konkret moderasi yang kreatif: berpijak pada tradisi, namun terbuka terhadap inovasi.

Moderasi bagi NU juga berarti keberanian untuk berkata benar di hadapan kekuasaan. Dalam banyak momentum sejarah, NU tidak takut menyampaikan pandangan kritis, sekalipun kepada penguasa. Sebab, berada di tengah bukan berarti tunduk kepada yang kuat, melainkan berdiri di atas kebenaran dengan adab dan kebijaksanaan.

NU meyakini bahwa umat Islam yang moderat adalah umat yang kuat. Ia tidak mudah diadu domba, tidak gampang diseret oleh narasi kebencian, dan tidak terperangkap dalam politik identitas yang menyesatkan. Kekuatan moderasi ini justru menjadi benteng peradaban Islam yang damai dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, menjadi moderat bukanlah jalan mudah. Ia menuntut keluasan ilmu, kedalaman spiritual, dan keteguhan moral. NU terus mengajarkan bahwa keseimbangan sejati hanya bisa dicapai bila seseorang mampu menundukkan ego, menghargai perbedaan, dan berpegang pada akhlak Rasulullah.

Moderat bagi NU adalah jalan tengah yang memiliki arah, nilai, dan keberanian. Ia bukan posisi netral, melainkan sikap berprinsip yang berpihak pada kemaslahatan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran, NU tetap berdiri teguh di jalan tengah, jalan yang lapang, tenang, dan penuh hikmah, tempat di mana kebenaran dan kasih sayang bertemu dalam satu nafas keislaman.