Ketika Umat Menjauh dari Ulama
Dalam lintasan sejarah Islam, Rasulullah Saw telah memberi peringatan keras tentang suatu masa yang akan menimpa umatnya: masa ketika manusia justru menjauh dan memusuhi para ulama. Dalam sabdanya yang penuh hikmah, beliau bersabda:
سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ
مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِم
اللهُتَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ
“Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama dan fuqoha (ahli fikih), maka Allah akan menurunkan tiga bala’ kepada mereka.”
Tiga bala’ itu bukan sekadar penderitaan duniawi, melainkan kerusakan total pada sistem kehidupan dan spiritual umat. Pertama, Allah mencabut keberkahan dari usaha mereka (يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ). Artinya, harta tetap banyak namun tidak membawa ketenangan; usaha tampak besar namun hasilnya kering dari kebaikan. Kedua, Allah menimpakan kepada mereka penguasa yang zalim (يُسَلِّطُ اللهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا) , pemimpin yang menindas, lahir dari masyarakat yang kehilangan adab terhadap ilmunya sendiri. Dan ketiga, mereka akan mati dalam keadaan tanpa iman (يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ) , penutup hidup yang paling mengerikan, su’ul khatimah.
Inilah azab spiritual yang paling ditakuti: mati dengan hati yang tertutup dari cahaya iman. Bukan karena Allah zalim, melainkan karena manusia telah menutup pintu keberkahan ilmu dan petunjuk dengan kesombongan terhadap para pewaris Nabi .
Rasulullah Saw pun menegaskan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ
بِالْحَرْبِ
“Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya.”
Hadis ini menggambarkan betapa seriusnya konsekuensi memusuhi kekasih Allah , para ulama dan auliya yang hatinya dipenuhi ilmu dan takwa. Permusuhan terhadap ulama bukan sekadar kesalahan sosial, melainkan pengumuman perang terhadap Allah sendiri.
Imam Ibn ‘Asakir رحمه الله dalam ungkapannya yang terkenal menasihati umat agar berhati-hati terhadap lidah yang mudah mencaci ulama. Ia berkata:
“Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa daging para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kehinaan orang yang mencela mereka sudah diketahui. Siapa yang melampiaskan lisannya terhadap ulama dengan tuduhan keji, maka Allah akan menimpakan kepadanya musibah sebelum wafat — yaitu matinya hati.”
Ungkapan “لُحُومُ العُلَمَاءِ مَسْمُومَةٌ” (daging para ulama beracun) menjadi simbol betapa berbahayanya merendahkan martabat ilmuwan agama. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله bahkan menegaskan:
“Barangsiapa yang menghirup racunnya akan sakit, dan barangsiapa yang memakannya akan mati.”
Ucapan ini bukan hiperbola, melainkan metafora spiritual: siapa yang hanya mencemooh ulama akan kehilangan keberkahan ilmu, dan siapa yang membenci mereka sepenuh hati akan kehilangan kehidupan imannya.
Imam Ibnul Mubarak رضي الله عنه melengkapi hikmah ini dengan ungkapan mendalam:
“Barangsiapa yang melecehkan ulama, maka hilanglah akhiratnya. Barangsiapa yang melecehkan umara (pemerintah), hilanglah dunianya. Dan barangsiapa yang melecehkan sahabatnya, hilanglah kehormatannya.”
Melecehkan ulama berarti mencabut akar petunjuk yang menuntun umat kepada Allah. Ketika ulama diremehkan, ilmu kehilangan martabatnya, dan masyarakat terjebak dalam kegelapan hawa nafsu serta opini tanpa dasar. Pada akhirnya, lahirlah generasi yang menolak bimbingan, menafsirkan agama semaunya, dan merasa cukup dengan pencarian di media sosial tanpa sanad dan adab.
Fenomena ini tampak nyata di zaman modern. Ketika masyarakat lebih percaya pada selebritas daripada ulama, lebih mendengar kata influencer daripada mufti, dan lebih menuhankan algoritma ketimbang ilmu, maka bala’ yang disebut Rasulullah ﷺ itu pun hadir dalam rupa kekeringan spiritual, ketidakadilan sosial, dan hilangnya keberkahan dalam setiap aspek kehidupan.
Umat Islam perlu kembali menyadari bahwa ulama bukan hanya pengajar fiqih, tetapi penjaga iman. Mereka adalah al-waratsatul anbiya’ pewaris para nabi). Merendahkan mereka berarti memutus mata rantai cahaya kenabian yang menghubungkan manusia kepada Allah.
Dalam situasi dunia yang dipenuhi fitnah dan kebingungan moral, menghormati ulama bukan sekadar sikap etis, tetapi bentuk penjagaan terhadap iman dan masa depan umat. Sebab sebagaimana dikatakan oleh para salaf: “Jika engkau melihat umatmu merendahkan ulama, maka tunggulah kehancurannya.”
Semoga Allah melindungi kita dari zaman yang disebut Nabi itu , zaman di mana umat menjauh dari ulama, sehingga hilanglah barokah, datanglah penguasa zalim, dan berakhir dengan kematian tanpa iman.
Na‘ūdzu billāhi min dzālik.
————
Daftar Pustaka:
Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq.
Ibn Asakir, Tabyin Kadhib al-Muftari fima Nusiba ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy‘ari.
Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad.
Ibnul Mubarak, Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa’iq.
Al-Qur’an al-Karim, Surah an-Nur [24]: 63.
Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Bab Adab al-‘Ilm.
As-Suyuthi, Ad-Dibaj ‘ala Muslim.