Pendidikan di Persimpangan Zaman: AI, Karakter, dan Kearifan Lokal

Pendidikan Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan yang menentukan. Kita menyaksikan perubahan teknologi yang melesat, khususnya kecerdasan buatan (AI), yang menawarkan peluang sekaligus ancaman. AI dapat menjadi guru pribadi, pustaka tak terbatas, bahkan fasilitator pembelajaran untuk daerah terpencil. Namun tanpa visi yang jelas, teknologi ini justru dapat membuat manusia kehilangan daya kritis, empati, dan jati dirinya.

Data menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia memang meningkat—dari 3,47 pada 2021 menjadi 3,54 pada 2022—dan Indeks Masyarakat Digital Indonesia melonjak dari 37,80 pada 2022 menjadi 43,34 pada 2024. Namun angka-angka ini masih berada di kategori “sedang.” Kita belum beranjak dari posisi sebagai konsumen teknologi menuju produsen pengetahuan dan inovasi.

Ironisnya, Indonesia adalah pengguna aplikasi AI terbesar ketiga di dunia, tetapi belum cukup banyak talenta yang menjadi pengembangnya. Pendidikan kita harus segera menjawab kesenjangan ini. Kurikulum Merdeka telah memberikan ruang fleksibilitas, mengedepankan materi esensial, pembelajaran berbasis proyek, dan pembentukan profil pelajar Pancasila. Tetapi kurikulum saja tidak cukup tanpa dukungan ekosistem yang kuat.

AI dalam pendidikan dapat membuka peluang luar biasa: personalisasi pembelajaran, pemetaan kekuatan dan kelemahan siswa melalui big data, serta akses pembelajaran yang setara. Namun, teknologi bukanlah pengganti guru. Peran guru sebagai teladan nilai, penjaga etika, dan fasilitator diskusi kritis tidak bisa diambil alih algoritma.

Masalahnya, banyak sekolah masih terjebak pada beban administrasi dan target nilai. Padahal, pendidikan seharusnya membentuk manusia utuh—yang cakap secara intelektual, tangguh secara moral, dan berakar pada budayanya. Nilai-nilai kearifan lokal seperti siri’ na pacce di Bugis atau gotong royong di Jawa dan Sunda dapat menjadi pondasi karakter di tengah arus globalisasi.

Di beberapa daerah, integrasi teknologi dengan kearifan lokal telah menunjukkan hasil positif. Program literasi digital berbasis AI di Pekalongan, misalnya, terbukti meningkatkan efektivitas pembelajaran hingga 59% dan kinerja guru sebesar 54%. Di Jakarta dan Jawa Barat, program pemulihan pembelajaran berbasis AI, AR, VR, dan asesmen karakter berhasil menyasar ribuan siswa pasca-pandemi.

Namun tantangan besar tetap ada: memastikan bahwa literasi digital juga diiringi literasi etika. Fenomena cognitive offloading—terlalu mengandalkan mesin untuk berpikir—adalah ancaman nyata. Generasi masa depan harus diajarkan untuk menggunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan tongkat penopang yang melemahkan otot pikirnya.

Kuncinya ada pada sinergi: pemerintah yang menyediakan infrastruktur dan kebijakan progresif, guru yang mendapat pelatihan berkelanjutan, sekolah yang adaptif terhadap inovasi, dan orang tua yang aktif menanamkan etika digital di rumah. Pendidikan harus menjadi proyek kolektif, bukan hanya urusan ruang kelas.

Kita tidak punya banyak waktu. Laju teknologi tidak menunggu bangsa yang ragu-ragu. Pendidikan Indonesia harus mampu melahirkan generasi yang bukan sekadar “melek digital,” tetapi juga mampu menjadi pencipta, pemikir kritis, dan penjaga nilai kemanusiaan.

AI memang bisa mengajarkan anak tentang dunia. Tetapi karakter, akar budaya, dan kebijaksanaan lokal akan mengajarkan mereka tentang diri sendiri. Dan hanya bangsa yang mengenal dirinya yang mampu berdiri tegak di tengah badai zaman.