Wasiat Sang Wali

Di antara lembaran sunyi masa,
terukir tinta dari jiwa yang luka,
Syekh Yusuf menulis bukan untuk dibaca,
tapi untuk direnungi dalam dada yang terbuka.

Ia bukan ulama biasa,
ia adalah api dalam malam penjajahan,
membakar lalai, menghidupkan asa,
dalam bait-bait wasiat yang penuh keberanian.

“Bersihkan hatimu dari debu dunia,”
ujarnya lirih dari pengasingan,
“karena kemenangan bukan pada senjata,
melainkan dalam ikhlas dan pengorbanan.”

Ia ajarkan cinta, bukan hanya pada Tuhan,
tapi juga pada tanah dan saudara seiman,
bahwa jihad sejati bukan hanya di medan,
melainkan menaklukkan nafsu dalam diam.

Ilmu ia angkat lebih tinggi dari istana,
tapi ia benci pada kesombongan yang menyertanya,
karena cahaya hanya akan menyala,
jika tak terselimuti tirai ria dan bangga.

Syekh Yusuf adalah suara dari Timur yang terlupa,
menggaungkan ukhuwah dan cita-cita,
agar umat tak tercerai oleh dunia,
dan tetap teguh di jalan yang satu: taqwa.

Akhlak baginya bukan tambahan hias,
melainkan ruh dari setiap gerak dan nafas,
“Jadilah seperti air,” katanya tegas,
“yang membersihkan, bukan menghanyutkan dengan keras.”

Ia tinggalkan bukan harta warisan,
tapi nilai yang hidup dalam tindakan,
bukan pidato atau simbol perayaan,
melainkan semangat dalam kesabaran dan keteladanan.

Kini wasiat itu melintasi zaman,
dari Goa, Makassar, hingga Afrika Selatan,
menjadi pelita bagi anak-anak peradaban,
yang mencari makna di tengah kebingungan zaman.

Wasiat itu bukan sekadar tulisan,
tapi darah yang mengalir dalam perjuangan,
mengingatkan bahwa Islam bukan kemewahan,
melainkan jalan panjang menuju kesempurnaan.

Dan kami, generasi yang membaca dari kejauhan,
berharap mampu menjaga pesan yang kau tinggalkan,
menjadi umat yang bukan hanya tahu ajaran,
tapi menghidupkannya dalam kehidupan harian.