Tasawuf yang Dilakoni
Tasawuf yang Dilakoni
Bukan di mimbar tasawuf bersinar,
bukan di kata-kata yang ramai terdengar.
Ia lahir dalam sunyi yang sabar,
di dada yang luluh, di jiwa yang lapar.
Bukan untuk dikaji semata, tapi dilakoni penuh cinta.
Ilmu boleh menjelaskan jalan,
namun kaki harus rela berjalan.
Zikir tak cukup di lidah yang fasih,
ia butuh hati yang bersih dan berserah.
Tasawuf adalah hidup yang dipilih, bukan sekadar lembaran yang dibaca.
Semakin ramai yang berbicara,
semakin sedikit yang menempuh arah-Nya.
Mereka sibuk memetakan maqam,
namun lalai meniti satu langkah diam.
Tasawuf pun menjadi gema, kehilangan rasa.
Wahai pencari Tuhan yang sejati,
jangan kau terjebak dalam puji-puji.
Rendahkan hati, lapangkan dada,
tempuhlah malam dengan air mata.
Sebab tasawuf adalah cahaya, bukan wacana.
Biarlah sunyi menjadi teman setia,
biarlah dunia kau tinggalkan sebentar saja.
Dalam sepi itu kau akan mengerti,
tasawuf bukan untuk dipahami,
melainkan untuk dijalani, hingga fana dalam Ilahi.