Samudra Makna dalam Al-Bahr al-Muhith

Samudra Makna dalam Al-Bahr al-Muhith

Di ufuk ilmu, samudra membentang,
Al-Bahr al-Muhith, tafsir nan terang.
Abu Hayyan sang penyelam kalam,
Mengurai ayat dalam cahayanya yang dalam.

Huruf demi huruf ditimbang hati,
Dalam nahwu, sharaf, tak terperi.
Qira’at berbeda tak dibiarkan lewat,
Namun diselami makna, hingga hikmah dapat.

Ia bukan sekadar lautan kata,
Tapi limpahan makna yang tak bernoda.
Tiap ayat dibedah lembut,
Dalam timbangan akal yang lurus dan lembut.

Zamakhsyari pun dikritiknya halus,
Bukan karena benci, tapi demi yang lurus.
Ilmu jadi suluh, bukan sekadar pujian,
Karena kebenaran butuh keberanian.

Warna-warni makna dibiaskan kata,
Balaghah jadi jembatan rasa.
Ayat-ayat bukan hanya dibaca,
Tapi dirasa dengan logika dan cinta.

Ia ajarkan, wahyu tak cukup diterjemah,
Harus digali dengan bahasa yang ramah.
Karena rahasia Tuhan dalam lafal tersimpan,
Bagi yang tekun, bukan yang enggan.

Santri yang haus, datang bersila,
Di pesantren atau ruang kuliah.
Kitab ini tetap jadi samudra,
Menjaga ilmu, menjaga makna.

Bukan hanya kitab, tapi guru diam,
Menuntun pembaca dari dalam malam.
Tiap kalimatnya pancarkan cahaya,
Menyibak rahasia surga dan dunia.

Al-Bahr al-Muhith, lautan ilmu nan jernih,
Dalamnya dalam, tak akan letih.
Siapa pun yang berenang di sana,
Akan pulang dengan mutiara makna.

Terima kasih, wahai sang mufassir,
Yang ajarkan tafsir dengan adab yang mahir.
Namamu tetap hidup dalam kitab-kitab,
Sebagai samudra yang tak pernah tenggelam.